Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 8 Part 2

Sumber: SBS





Kembali ke ruangannya, Min Ik menatap payung Gal Hee, bahkan membukanya, hanya itu yang membuatnya tersenyum.




Gal Hee menghubungi diskominfo untuk membatalkan kontrak nomor ponsel lama Nam Hee. Tapi gak jadi kala melihat Min Ik



Gal Hee masuk ke ruangan Min Ik, Min Ik segera menyembunyikan payung itu. 

"Semua baik-baik saja kemarin?" Tanya Gal Hee, "Apa Direktur Utama Sim menjengukmu tadi malam?"

"Ah.. Hampir lupa. Bisakah kamu mencari tahu merek ranjang yang digunakan di rumah sakit? Sudah lama aku tidak tidur nyenyak. Aku bahkan tidak sadar ada yang menjengukku atau tidak."

"Kurasa percuma aku khawatir." Gumam Gal Hee.



Tiba-tiba Min Ik menyodorkan ponselnya, meminta Gal Hee memberikan nomornya Veronica Park. Gal Hee hanya diam.

"Kenapa kamu tidak menjawabku?" Min Ik semakin mendekat.




"Kenapa Anda menginginkan nomornya? Kata Anda tidak akan menemui dia lagi." Gal Hee keceplosan sampai marah-marah. 

"Kamu marah kepadaku saat ini?"

"Tidak. maksudku... Konon, dia mempunyai 10 ponsel. Sulit sekali mendapatkan nomor pribadinya. Semua orang menghubungi sekretarisnya, tapi..."

"Hubungi sekretarisnya. Aku sendiri yang akan menanyakannya."

"0108246..."

"Apa? Kukira kamu tidak tahu."

"Kubilang sulit mendapatkan nomornya. Memang aku bilang tidak tahu?"

Min Ik tetap mengulurkan ponselnya, Gal Hee tetap berusaha agar Min Ik mengurungkan niatnya untuk minta nomor Veronica, tapi Min Ik malah memperlihatkan kekesalannya.

Terpaksa, Gal Hee memberikan nomor Veronica.


Di mejanya, Gal Hee bicara sendiri, "Tidak mungkin. Direktur Do bukan orang yang menelepon wanita lebih dahulu."




Tapi dugaan Gal Hee salah, Min Ik langsung menelepon nomor yang ia berikan dan nomor itu adalah nomor lama Nam Hee. Gal Hee kaget dong saat ponselnya Nam Hee bergetar.

ia segera menguasai dirinya, "Tidak. Tenang. Aku harus tetap tenang. Tidak apa-apa. Oh! Aku tidak perlu mengangkatnya. Abaikan saja."




Akhirnya panggilannya berhenti. Gal Hee berharap Min Ik gak meneleponnya lagi, lalu ia mengirim pesan.

"Karena jadwalku padat, aku tidak akan bisa..."

Tapi belum selesai ia menulis, Min Ik kembali menelepon dan ia gak sengaja menekan tombol jawab. 

"Halo? Ini nomor Veronica Park? Halo?" Tanya Min Ik.

"Aku baru saja mengangkatnya?" Kata Gal Hee pada dirinya sendiri sambil menggigit jari.



Jadi mau tak mau Gal Hee harus bicara, "Veronica Park Speaking. Siapa ini?"

"Halo.  Aku Do Min Ik dari TnT Mobile. Kita pernah bertemu."

"Rupanya kamu, Do Min Ik-ssi."

"Ya. Aku tidak mengganggumu, bukan? Omong-omong, apakah kamu senggang nanti malam?"

"Sebenarnya, aku ada jadwal penting malam ini. Aku akan bekerja sampai tengah malam. Kenapa kamu meneleponku?"

"Sebenarnya, aku ingin mengembalikan payungmu. Payung kuning yang kubawa saat kita bertemu waktu itu."

"Payung itu rupanya. Um... Aku selalu membuang payungku seusai menggunakannya. Pergilah ke tempat sampah terdekat dan buang saja."

"Aku memahami maksudmu, tapi kurasa aku tidak berhak membuangnya. Jika kamu di kantor, aku akan mampir dan mengembalikannya."



Gal Hee langsung menolaknya, "Tidak. Jangan datang ke kantorku."

Min Ik berjalan menuju meja Gal Hee sambil menjawab, "Kalau begitu, bisakah kita bertemu di depan rumahmu?
"

"Tidak. Itu justru makin tidak mungkin."

"Bagaimana kalau kita bertemu di Hotel Kingdom lagi pukul 18.00?"



Sampai di meja Gal Hee, Min Ik langsung memutar kursi Gal Hee agar menatapnya. Gal Hee pun memutus telepon setelah mengiyakan ajakan Min Ik sengan samar.

"Halo? Ya. Aku akan menemuimu di sana--" Kata Min Ik.



Gal Hee menunjukkan senyumnya pada Min Ik, "Ada apa, Direktur Do? Anda butuh sesuatu?"

"Kenapa kamu membelakangiku? Apakah kamu bersikap seperti ini karena tidak mau melihat wajahku?"

"Apa maksudmu? Kurasa kursinya rusak. Kursinya tidak mau berputar."

Min Ik memberikan kontrak dari SBC. Ia menyuruh Gal Hee membawanya ke tim hukum untuk meninjaunya.

"Baiklah."



Tapi Min Ik melihat Gal Hee sepertinya mau mengatakan sesuatu, "Apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?"

"Tidak, tapi sekarang ada. Aku harus.. keluar siang ini."




Dokter Gu mengajak Dokter Park bicara, "Soal pasien prosopagnosia yang kamu temui di Amerika... Kudengar dia pernah mengenali wajah orang lain."

"Benar. Masalah pada pasien itu adalah klipnya bergeser dan itu menghambat aliran darah ke fusiform gyrus, yang mana adalah bagian pengenalan wajah. Tapi saat tekanan darahnya naik, darah mengalir ke bagian itu lagi. Jadi, kurasa fungsi itu kembali dalam jangka waktu yang sebentar."

"Tunggu. Maksudmu, pasien bisa mengenali wajah jika tekanan darahnya naik?"

"Ya."

"Bisa beri tahu aku kapan itu terjadi? Kapan pasien itu mengenali wajah?"

"Kudengar, itu terjadi tiga kali. Kali pertama selagi dia berpidato saat wisuda. Tekanan darah biasanya naik saat seseorang merasa gugup atau bersemangat. Kali kedua saat dia bergadang tiga malam karena bekerja. dan yang terakhir... Astaga. Kapan, ya?"




Jung Hee merasakannya, "Dia tiba-tiba repot dan cemas. Sebenarnya ada apa ini?"

"Oppa beruntung tidak bisa melihat. Adikmu sedang melakukan hal bodoh."


Nam Hee menelepon.

"Hei, Nam Hee. Kamu sudah tiba dengan selamat?"

"Tentu saja. Udara di Pennsylvania..." Nam Hee memberikan jempolnya.

"Maafkan Eonni, Nam Hee. Eooni harus keluar sekarang."

"Baiklah."

"Eonni akan meneleponmu besok."

"Baiklah. Telepon aku, ya."

"Dah."




Ya Tuhan... Nam Hee bohong ternyata, ia sekarang ada di rumah kecil di salah satu sudut Korea. 



Presdir Sim gak tahu kenapa heppie banget, ketawa-tawa sendiri. Tap langsung serius saat mengangkat telepon.

"Halo, Direktur Park - Apa? Ada rumor semacam itu? - Tidak, aku belum pernah mendengarnya."

"Aku melihat Direktur Do Min Ik menyerang sopirnya."

"Baiklah. Aku akan menyelidikinya dan meneleponmu lagi."


WOWOWOWOWO.. ternyata satpam yang mengintip semalam itu adalah mata-mata Presdir Sim dan artikel tentang Min Ik yang menyerang supirnya itu ulah Presdir SIm pasti, maknaya ia heppi banget karena berhasil menemukan kelemahan Min Ik.




Veronica mengundang Dae Joo ke gedung Cinemapark. 

"Welcome.. Hai. Aku sengaja membuatmu tiba pukul 18.05. Jika kamu tiba sebelum pukul 18.00, kamu pasti membahas pekerjaan."

Dae Joo menghormat pada Sekretaris Veronica, Sekretaris itu mengerti dan langsung meninggalkan mereka.

Dae Joo berkata, "Kamu tidak perlu menjemputku. Kakiku kuat karena aku menuruni kakekku."

"Bukan hanya itu yang kulakukan. Aku memesan makanan dan minuman. Semua sudah disiapkan. Kamu tidak bisa beralasan dengan mengatakan kamu tidak bisa mentraktirku minuman hari ini."


Dae Joo membahas film yang sedang di tonton Veronica, "Omong-omong, ini apa?"

"Itu dibuat oleh sutradara terkenal. Kualitasnya luar biasa, bukan? Inilah profesiku. Makin terekspos, kamu akan makin terikat. Orang-orang di negara ini terbiasa menjejalkan pendidikan."

"Aku belum memberitahumu aku pernah berkuliah di Amerika."



Veronica menunjukkan proposalnya. Dae Joo antusias, sudah dibacakah?

"Belum. Aku baru membuka amplopnya. Aku baru akan membuka amplopnya setelah pertemuan pertama. Aku akan membaca halaman satu setelah pertemuan kedua. Dan halaman dua setelah itu. Jadi, ini..."

"Jumlahnya 30 halaman."

"Maka kita harus bertemu setidaknya 30 kali."

"Bagaimana pendapatmu tentang proposalku?"

"Silakan saja."


Dae Joo duduk disamping Veronica. Veronica merasa aneh, kenapa Dae Joo mudah sekali? Kurang menarik ah jadinya.

"Karena kita tidak akan bertemu 30 kali. Begitu membaca halaman satu, kamu pasti akan membaca halaman dua. Kamu pasti akan penasaran."

"Rupanya kakekmu yang luar biasa dan menanam cabai itu mewariskan kepercayaan diri kepadamu juga. Kita lihat saja apakah aku akan penasaran setelah membaca halaman satu."



Veronica menunjukkan ponselnya, "Lihatlah. Nomor ponselmu. Aku baru saja menghapusnya. Mulai sekarang, jika ingin mengirimkan proposal proyek, kamu sendiri yang harus meneleponku. Aku agak lengah pada pertemuan pertama kita. Tapi aku Master Kesuksesan Film. Aku bukan wanita yang menelepon pria lebih dahulu. Baiklah... Jika kamu mau, kurasa aku bisa membuka halaman dua sekarang juga. Bagaimana menurutmu?"



Tapi Dae Joo menolaknya karena ia mendapat kabar soal artikel Min Ik itu.  

"Kenapa?!" Veronica kesal.



Dae Joo buru-buru pergi dari sana, ia menghubungi Sek. Lee, "Sekretaris Lee, kamu sudah mengecek forum internet?"

"Direktur Gi. Maaf, aku harus menutup teleponnya sekarang - Baik."



Ternyata Sek. Lee sekarang sedang diinterogasi. 

Detektif, "Kenapa? Bosmu meneleponmu untuk mencocokkan alibi?"

"Ini soal pekerjaan."

"Pada tanggal 6 Mei, di mana kamu?"

"Aku pergi ke rumah orang tuaku di Hwangcheon."

"Apakah kamu menemui Direktur Gi Dae Joo hari itu?"

Sek. Lee hanya diam.

"Jawab!"


Gal Hee udah siap ketemu Min Ik, "Tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengambil payungku, lalu pulang."



Tapi ia gugup saat melihat Min Ik dari kejauhan. 

Gal Hee menatap ke atas, "Jadi, Ibu, tolong maklumi aku sekali ini saja. Hari ini.. akan menjadi yang terakhir."

Gal Hee melangkah menuju Min Ik.


Dokter Park: Aku ingat. Kali terakhir pasien itu mengenali wajah orang lain.

Dokter Gu: Kapan?



Gal Hee akhirnya sampai pada Min Ik, hal yang pertama ia tanyakan adalah dimana payungnya.

"Ah.. Aku tidak membawanya. Sejak awal, aku tidak berniat untuk membawanya."

"Lantas kenapa kamu ingin menemuiku?"

"Karena aku mengalami gangguan pencernaan."

"Apa?"

"Saat memikirkanmu, aku merasakan sesuatu yang lucu di dalam perutku. Mungkin aku mengalami gangguan pencernaan."



Dokter Park: Saat dia bertemu dengan seseorang yang dia cintai. Katanya dia melihat wajah wanita itu dengan jelas. Ajaibnya, dia melihatnya dengan sangat jelas.

Click to comment