Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 10 Part 1

Sumber: SBS



Rapat lagi, tapi kali ini Para Direktur dibuat kesal karena harus menunggu Min Ik.


  
Min Ik duduk di kursinya, ia mulai membahas soal pengunduran diri, tapi belum selesai ia ngomong, Direktur Park udah nyala aja.

Direktur Park bertepuk tangan, "Bagus. Sebaiknya kamu katakan sekarang. Keputusanmu tepat. Mari kita sudahi sekarang. Mau sarapan dengan seolleongtang?"




Min Ik berkata kalau ia gak akan mundur. Presdir Sim sampai melotot, " APA?!" 

Ny. Sim jelas memproes keputusan putranya itu.

Min Ik: Pamanku selalu menjadi panutanku selama ini. Seperti tiga tahun lalu, dia pantang menyerah. Dia selalu melakukan yang terbaik. Dan sebagai pemuda, aku tidak boleh menyerah karena masalah sepele. Selain itu, kini aku memiliki seseorang yang akan membantuku menjadi presdir. Mulai sekarang, badai akan kuhadapi. Kita lihat saja siapa yang akan menginjak garis finis lebih dahulu.

Gal Hee mondar mandir cemas menunggu Min Ik selesai rapat. Saat Min Ik kembali, ia langsung mengekorinya masuk ke ruangan.



Min Ik menghela nafas memandang Gal Hee.

"Aku baru saja mengumumkannya." Ucap Min Ik.

"Baguslah."

"Kini kita harus bagaimana?"

"Anda harus pindah kantor lebih dahulu. Siapa yang tahu? Mungkin akan ada yang mengawasi kita lagi."





Gal Hee pulang dan dikejutkan oleh kakaknya yang tiba-tiba memakai setelah Min Ik. Kakanya kira itu hadiah untuknya, tapi kenapa lengannya kepanjangan?

"Tunggu, kakak terluka?" Gal Hee khawatir melihat ada noda darah di kemeja yang dipakai kakaknya, tapi kemudian ia sadar kalau setelan itu miliknya Min Ik yang ia bawa dari Rumah Sakit.



Gal Hee: Itu setelan bosku.

Jung Hee: Pantas saja bahannya nyaman.

Gal Hee buru-buru melepas setelah itu dari kakaknya dengan kesal, "Kakak tidak tahu ini apa. Kemeja itu. Tidakkah Kakak mengendus darah dari kemeja itu? Aku seharusnya membawa ini ke penatu. Bisa-bisanya aku lupa."



Gal Hee mengibas jas itu dan ada USB yang jatuh dari sana.

"Suara apa itu?" Tanya Jung Hee.

Gal Hee mengambil USB itu, "Mungkin itu milik Direktur Do."





Nam Hee mengikuti audisi film 'Pelayan Istanaku yang Pemberani' dimana Veronica adalah pengaudisinya. Tapi Veronica masih gak bisa fokus gara-gara ponsel sampai harus disadarkan oleh sekretarisnya.



Veronica, "Ibumu bilang kamu cantik, bukan? Pasti dia bilang Jun Ji Hyun tidak secantik kamu. Dan kamu bisa menjadi aktris yang lebih sukses daripada dia."

"Jika menurutmu saya payah, katakan saja. Jangan libatkan ibu saya. Itu tidak adil." Balas Nam Hee dengan berani.

"Baiklah. Kamu payah. Berikutnya!"

"Begitu saja?"

"Ya. Tidak hanya payah dalam berakting, kamu juga menyindirku. Apa yang kamu harapkan?"

"Anda yang pertama menyerangku, Ahjumma."




Veronica menggila karena dipanggil Ahjumma, sampai ia meloncati meja membuat yang lain kelabakan. 

Veronica memelototi Nam Hee, "Dan kamu baru saja menyerangku! Biasanya seseorang dianggap sebagai orang atau wanita. Beraninya kamu mendiskriminasiku dengan memanggilku Ahjumma?"

"Sayalah yang didiskriminasi. Anda seorang juri, tapi Anda tidak memperhatikan saya. Anda hanya memperhatikan ponsel Anda."

"Lalu menurutmu itu salahku? Salah sendiri kamu gagal menarik perhatianku."

"Tahukah Anda betapa memalukannya berakting seburuk ini di audisi sebesar ini? Saya sudah marah pada diri saya sendiri karena tidak lolos audisi bahkan setelah membohongi kakak saya dan minggat dari rumah hanya demi menjadi bintang. Kenapa Anda membuat saya sedih dengan menyebutkan ibu saya yang sudah tiada?"



"Aku menyukai nyalimu. Kamu kira aku akan mengatakan itu? Jika menghadiri audisi, kamu seharusnya menarik perhatianku dengan aktingmu. Kenapa kamu malah berusaha membuatku mengasihanimu? Dan kamu sungguh berpikir aktingmu cukup bagus sampai minggat dari rumah? Maafkan ucapanku soal ibumu. Kamu juga sebaiknya meminta maaf."

"Maafkan saya, Ahjumma..."

Veronica kembali melotot.

"Lantas saya harus memanggil Anda apa?"



Veronica histeris, "Cukup panggil aku, "wanita"." Kemudian memposisikan tangan seperti sedang memohon. Ia mengucapkan apa yang harusnya Nam Hee ucapkan, "Maafkan saya, Wanita."

Nam Hee melakukannya persis, "Maafkan saya, Wanita."

Veronica langsung memanggil peserta selanjutnya.


  
Saat akan kembali ke mejanya Veronica mendengar ponselnya berdering. Ia penuh harap, "Tidak mungkin. 0106421? Aku menghapus nomor teleponnya, tapi otakku yang cerdas ini pasti sudah menghafalnya. Itu ponsel nomor satu, bukan? Ponsel yang kugunakan untuk VIP."

Sekretarisnya menunjukkan ponsel yang berbunyi, "Ini ponsel nomor 10. Ponsel khusus untuk orang-orang yang Anda hindari."

"Siapa yang menelepon?"

"Presdir Sim Hae Yong."



Veronica mengangkatnya enggan, tapi tetep gak ketinggalan kalimat pembukanya, "Veronica Park speaking."

"Kamu akan segera ditelepon terkait rapat pemegang saham. Kuharap kamu akan menghadiri rapat itu."

"Tidak. Jika selalu menghadiri rapat pemegang saham yang tidak penting, kapan aku punya waktu bertemu dan minum dengan pria?"

"Ini terkait Direktur Gi Dae Joo. Kudengar hubungan kalian berjalan dengan lancar."

"Itu yang dia katakan kepadamu? Apa dia bilang hubungan kami berjalan dengan lancar?"

"Itu... Ya, tentu. Apa yang dia pikirkan? Kamu harus mampir untuk menyapanya. Akan lebih baik jika kamu menuliskan sebuah POA untukku."



Akhirnya Dae Joo menghubungi juga. Veronica sangat senang sampai langsung memutus telepon Presdir Sim.



"Veronica Park speaking. Aku tidak tahu nomor ini. Dengan siapa aku bicara?"

"Ini aku, Gi Dae Joo. Bisa bertemu hari ini?"


Min Ik membawa Gal Hee ke dalam sweet room hotel bintang enam, sayangnya ia menenteng rice cooker.

"Saya belum pernah masuk ke dalam sweet room."

"Aku tahu ini kali pertamanya kamu masuk ke kamar hotel bintang enam. Tapi haruskah kamu membawa penanak nasi itu dan merusak interior? Di sini ada prasmanan yang mungkin lebih kamu cintai daripada dirimu."

"Tentu saja aku tidak lupa membawa celana karet untuk prasmanannya. Tapi aku tidak bisa makan di prasmanan sampai rapat pemegang saham diadakan. Itu sangat mahal."




Tiba-tiba Gal Hee membahas soal USB yang ia lupakan. Min Ik gak ngerti, USB apaan?

"Ingat setelan yang kamu pakai di hari kecelakaan? Aku menemukan setelan itu."

Jeong Su yang ada dibelakang mereka membelelakkan mata karena USB itu yang cari.

Min Ik: Apa maksudmu? Aku sudah membawanya dari rumah Dae Ju.

Gal Hee: Apa? Tidak mungkin. Pasti ada di dalam tas.

Tapi kemudian mereka berjalan masuk ke kamar.



Setelah membawakan dua koper ke dalam kamar, Jeong SU bertanya perihal mobil, harus ia apakan?

"Anda tidak perlu ke sini untuk sementara. Direktur Do akan di sini selama beberapa hari." Kata Gal Hee.

"Kalau begitu, saya akan mengantar Anda pulang."

"Tidak perlu. Kenapa Anda harus mengantar saya?"

"Karena... Kalian sudah bekerja keras. Biarkan saya membantu. Saya akan mengantar anda pulang dengan selamat."


Mulailah mereka membuka-buka dokuen. Min Ik bertanya, mereka harus mulai dari mana?

"Jika aku memulainya dari penjualan, mungkin terdengar sedikit sombong." Lanjut Min Ik.

"Akankah terlalu kentara jika kamu memulai dengan permohonan maaf?"

"Aku penasaran dia sedang apa."



Gal Hee memastikan, wanita siapa? Jangan-jangan Veronica Park?

"Dia mungkin lebih berpengalaman dalam hal ini daripada aku."

"Kenapa Anda menyukainya, Direktur Do?"

"Aku? Kenapa kamu berpikir aku menyukainya? Kamu sungguh berpikir bosmu adalah orang yang akan jatuh cinta kepada wanita yang baru saja dia temui?"

"Saya merasa itu kali pertamanya Anda meminta nomor telepon wanita setelah berkencan buta dengan beberapa wanita."



Min Ik segera memberi alasan, "Dia lebih kaya daripada aku. Dia dari keluarga yang lebih baik, dan dia lebih kompeten. Jadi, bukankah itu wajar?! Aku akan menangani masalah percintaanku sendiri."

Ada kesedihan di wajah Gal Hee mendengarnya.

"Bangunkan aku begitu nasinya matang. Aku kurang tidur belakangan ini, jadi aku lelah."

Min Ik langsung kabur ke ranjang.


Gal Hee: Jika.. wanita itu.. tidak kaya, tidak berasal dari keluarga yang baik, dan tidak kompeten sama sekali, Anda pasti tidak akan menyukainya, bukan?

Tapi Min Ik gak merespon. Gal Hee menanggil-manggil, masih gak ada respon.



Gal Hee pun mendekati kamar Min Ik dan melihat Min Ik sudah terlelap. Gal Hee sempat ragu sebelum mendekat pada ranjang Min Ik.




Gal Hee berlutut, ia mengaku, "Saya membuat suatu kesalahan. Dan saya menyesal. Tapi saya akan membayarnya dengan bekerja keras. Jadi, tolong jangan menyukainya. Jika Anda menyukainya dan berakhir menderita karenanya, saya juga akan sakit hati."




Tiba-tiba Min Ik membuka matanya membuat Gal Hee hampir terjengkang saking kagetnya.

"Aku tidak tidur."

"Anda dengar semuanya?"



Min Ik ketawa, "Kenapa kamu sangat dangkal? Siapa yang akan tidur secepat itu?"

"Maksudku... Anda harusnya merespons jika masih bangun, kenapa diam?"

"Aku hampir tidur."

Gal Hee menendang kesal.



Min Ik mencerna kalimat Gal Hee tadi, "Omong-omong, apa kamu sakit? Kurasa aku mendengarmu mengatakan sakit atau semacamnya."

"Pergelangan tanganku... Sakit sekali. Aku mengelap semua piring, dan kini tanganku sakit sekali. Astaga, aku sebaiknya merendamnya dengan air hangat."

Gal Hee menggunakan alasan itu untuk kebur ke toiet.



Min Ik: Kamu tahu Veronika Park seperti apa, bukan? Kamu tidak tahu?

Gal Hee: Saya... Ya, saya tahu.

Min Ik: Apakah dia cantik?

Gal Hee: Kalau cantik, kenapa?

Min Ik: Dia cantik atau tidak?

Gal Hee menggerutu, "Jika aku bilang cantik, dia akan makin menyukainya."



Min Ik meminta Gal Hee menjelaskan dengan detail bagaimana wajah Veronica, Seperti apa matanya? Bagaimana hidungnya? Dan bagaimana.. bibirnya? Huh?

Gal Hee mengatakannya sambil menatap wajahnya di cermin, "Matanya.. berbentuk seperti kebanyakan mata. Dan hidungnya... Hidungnya juga.. berbentuk seperti kebanyakan hidung."

"hmmm?"

"Dan bibirnya... Menurutku bibirnya cukup bagus."




Suara Gal Hee, "Tapi dia memang cantik. Banyak orang bekerja untuknya hanya untuk membuatnya terlihat cantik. Dia punya pakaian buatan desainer yang memperindah fisiknya. Dan sepatu hak tingginya dibuat bukan hanya untuk berjalan, tapi juga untuk keindahan yang menyempurnakan lekuk tubuhnya.



Gal Hee melanjutkan, "Yang terpenting, dia punya sebuah mantel yang tidak dimiliki orang lain. Pertama, benang mantel itu dibuat dari uang, lalu dijahit oleh orang tuanya, dan dilapisi dengan kompetensi. Itu disebut mantel kepercayaan diri. Itu mantel yang tidak kasatmata, tapi semua orang bisa melihatnya. Itu membuatnya terlihat percaya diri dan cantik."

Click to comment