Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 10 Part 2

Sumber: SBS



Veronica dandan gila-gilaan untuk bertemu Dae Joo malah ngakunya gak dandan karena tadi di audisi ada seorang gadis yang sangat temperamental, jadi, ia bahkan tidak sempat memakai lipstik.

Dae Joo tersenyum karena lipstik Veronica di gigi, "Kamu tidak sempat memakai lipstik, tapi lipstiknya ada pada gigimu."




Dengan santainya Dae Joo menghapus lipstik di gigi Veronica.

Veronica jelas malu banget sampai gak berani memperlihatkan giginya saat bicara, "Aku tiba-tiba merasa lapar."

Saat Dae Joo gak lihat, ia gosok-gosok gigi dengan jarinya.


Berjalan di lobby, Veronica melupakan rasa malunya dan mulai bicara.

"Sim Hae Yong memintaku untuk datang, tapi Gi Dae Ju melarangku. Birokrasi perusahaanmu lucu sekali. Aku penasaran siapa yang ada di pihak siapa."

"Tolong bantu aku. Aku punya teman yang menyukai istriku."



Veronica langsung memandang Dae Joo kesal, "Jadi, kamu meminta bantuanku demi istrimu? Berani sekali kamu!"

"Apa kamu baru mau bilang ya, jika aku menemuimu? Begitukah?"

"Kamu hanya menemuiku saat butuh bantuan. Kamulah yang jahat."

"Kamu tidak berpikir hanya itu alasanku menemuimu?"

"Woah.. Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi tidak bisa berpikir setiap kali melihatmu."


Alaram Veronica berbunyi, memberitahukan kalau sekarang sudah jam 6 sore, ia pun tersenyum, "Karena alarm sudah berdering, haruskah kita memulai cerita cinta kita sekarang?"


Kemudian datanglah seorang pria menyapa Veronica dengan sangat sopan, memanggilnya Presdir.



"Apa kamu pemilik restoran ini?" Tanya Dae Joo.

"Memang terdengar mengecewakan. Aku pemilik seluruh gedung ini."

"Kalau begitu, makan di tempat lain saja. Jika kamu makan di sini, para pegawaimu akan kelelahan."

"Jika makan di tempat lain, aku yang akan kelelahan."

"Aku tahu restoran sushi yang enak di sekitar sini. Dan harganya masuk akal, jadi, aku bisa membayar dengan kartuku."

"Kamu mengatakan menu ini tidak enak dengan cara yang sangat positif."

"Apa pun akan nikmat selama aku makan dengan orang yang kusukai."



Veronica tersenyum lebar mendengarnya, tapi ia mau memastikannya dulu, "Apa maksudmu kamu menyukaiku dengan cara malu-malu?"

"Itu perumpamaan. Jika aku makan sesuatu dengan orang yang kusukai..."

"Lihat saja. Aku akan membuat perumpamaan itu menjadi bentuk masa sekarang. Ayo!"



Veronica pergi dengan semangat. Dae Joo hanya tersenyum.


Gal Hee minta ijin Min Ik pelan banget.

"Direktur Do. Ada karet rambut dan peralatan jahit di kamar mandi. Kurasa Anda tidak membutuhkannya, jadi, saya mengambilnya. Terima Kasih."

Lalu Gal Hee menghilang lagi.




Saat kembali muncul, Gal Hee sudah tidak menggunakan sarung tangan karet. Eh ternyata tadi Min Ik tidur, makanya Gal Hee bicaranya pelan banget.

Gal Hee melepas cardigannya lalu mendekati Min Ik, "Anda mengantuk lagi? Tidurlah di kamar."

Ia menyentuh Min Ik tapi Min Ik gak gerak, emang beneran tidur ternyata.




Merasa posisi tidur Min Ik gak enak, Gal Hee meluruskan kepala Min Ik. Min Ik membuka matanya setengah.




Tiba-tiba Min Ik mendekatkan wajah Gal Hee dengan kedua tangannya, "Aku bisa melihatmu."

"Apa?"

"Di mimpiku. Aku bisa melihat semuanya."

"Ini bukan mimpi."

"Kamu cantik."

"Saya cantik?"

"Ya. Kamu cantik."

"Meski saya tidak kaya?"

Min Ik tersenyum mengangguk.

"Meski aku bukan pemilik gedung?"

Mengangguk lagi Min Ik nya.

"Meski aku tidak punya orang tua?"

Min Ik kembali mengangguk.

"Andai ini bukan mimpi."




Tapi kemudian Min Ik sadar kalau ini bukan mimpi.

"Apa ini? Ini bukan mimpi?"

"Tentu saja bukan." Gal Hee langsung mendorong Min Ik sampai kepalanya nyungsep ke bantal.




Gal Hee memakai cardigannya lagi sambil marah-marah, "Kenapa Anda sangat dangkal? Bagaimana mungkin Anda mulai bermimpi secepat itu?"

Min Ik posisinya masih mmelungker, kaya anak yang takut dimarahin ibunya, "Itu... Kukira kamu Veronica."

"Ini saya, Jung Biseo. Anda bahkan tidak tahu seperti apa wajah Veronica."

"Kurasa aku tahu itu. Tiba-tiba aku merasa seperti itu saat ini."

"Saya akan tiba pukul 08.00 besok pagi. Dah."



Tapi Min Ik menahannya, "Jangan pergi. Menginaplah. Aku akan pergi. Kamu bisa tidur di sini."

"Tidak usah. Anda tidak perlu melakukan itu untuk saya."

"Untukmu? Aku? Ini hanya soal utilitas marjinal. Aku bisa tidur di sini setiap hari, tapi ini kali pertama bagimu. Jadi, itu akan menciptakan kepuasan lebih. Ini semua tentang ekonomi. "





Min Ik meminta Gal Hee berdiri. Kemudian ia memakaikan mantel tak kasat mata pada Gal Hee.



"Apa yang Anda lakukan?"



"Jung Biseo, kamu berbicara tentang mantel kepercayaan diri tadi. Ini mantelnya. Jung Biseo, aku ingin kamu tetap di sini selama beberapa hari dan memakai mantel itu. Ini sama sekali bukan tentang perhatian. Aku hanya melakukan ini untukku. Jika kamu hilang kepercayaan diri sebelum rapat pemegang saham, itu akan memberatkanku."



Sebelum pergi, Min Ik memberitahu jadwal hotel, "Spa buka pada pukul 10.00, dan sarapan prasmanan buka pada pukul 06.00. Jangan lupa mengunci pintu."



Jeong Su yang menunggu di depan heran karena Min Ik yang keluar, bukannya Gal Hee.

"Dia akan menginap di sini selama beberapa hari. Ayo pulang."

"Baik, Pak."


Gal Hee mengitari kamar hotel sambil tersenyum, ia menatap pantulan bayangannya di kaca jendela, "Aku Jeong Gal Hee yang menginap di sebuah sweet room."



Mengngat pujian Min Ik tadi membuatnya melambung, "Kurasa aku benar-benar menjadi cantik. Seolah-olah aku menjadi dia."


Min Ik: Kukira.. kamu Veronica.

Gal Hee menyanggahnya, tidak mungkin, tidak mungkin Min Ik mengenalinya.


Selanjutnya Gal Hee mengagumi pemandangan di depannya, "Seperti inilah rasanya melihat ke bawah dari ketinggian. Indah."



"Dua pekan kemudian, rapat pemegang saham TnT Mobile"

Detektif datang hari ini. Yang senior pikir keliru memilih hari. Tapi Detektif Park malah kebalikannya.



Gal Hee membantu Min Ik bersiap dan dari wajahnya bisa kelihatan kalau ia gugup banget.

"Kenapa kamu terlihat terintimidasi?" Tanya Min Ik.

"Tidak, aku tidak terintimidasi. Aku hanya berharap rapat pemegang saham dibatalkan."

"Jangan harap. Jika itu bisa dibatalkan, mereka tidak akan memulainya."




Saat merapikan jas Min Ik dibagian dada, Gal Hee merasakan sesuatu. Ia tiba-tiba mendekatkan telinganya ke sana.

"Apa yang kamu lakukan?" Min Ik mendorong Gal Hee menjauh.

"Tunggu. Jantung Anda berdetak cepat sekali. Mungkin Anda harus membawa obat antihipertensi."

"Jangan berlebihan. Aku hanya.. sedikit takut karena mungkin akan mencetak rekor melihat orang tanpa wajah dengan jumlah terbanyak hari ini."

"Betapa hebatnya itu."

"Apanya?"




"Banyak orang akan gugup di mimbar dan menutup mata mereka. Tapi Anda tidak dapat melihat wajah siapa pun. Jadi.. lihat saya saja dari mimbar. Lagi pula, saya juga pemegang saham dengan 10 perusahaan."

"Hanya sepuluh?"



Min Ik mengajak Gal Hee berangkat sekarang, tapi Gal Hee memintanya menunggu. Gal Hee meminjamkan mantel kepercayaan dirinya untuk Min Ik.

"Anda boleh meminjam mantel saya. Pastikan Anda mengembalikannya seusai memakainya."

Min Ik hanya tersenyum. Dan mereka berangkatttt...


Direktur Park menemui bolo-bolonya dengan panik.

"Hei. Yang hadir lebih sedikit daripada yang kukira. Rapat dimulai pukul 14.00. Jika orang yang memiliki lebih dari 100.000 saham tidak hadir, kemungkinan rapat akan dibatalkan."


Presdir Sim menatap ke arah pintu masuk, "Wanita itu.. harus datang."







Presdir Sim memimpin rapat. Ny. Park hadir disana ternyata sembunyi-sembunyi tapi.

Presdir Sim: Dewan direksi yakin bahwa melakukan penyerangan di tempat kerja adalah hal tidak bertanggung jawab yang mendorong penyalahgunaan jabatan dan menekan moral pegawai. Karena itu, kami menyarankan Direktur Do Min Ik mundur dari agenda rapat pemegang saham hari ini.


Gal Hee mengangkat tangannya, "Saya ingin mendengar penjelasan Direktur Do mengenai masalah ini."

Tapi gak ada yang menyetujui usulannya, semua hanya diam. Gal Hee menggerutu kesal, "Ini tidak adil."




Sampai akhirnya seorang wanita "macan" dengan lantang menyetujui usul Gal Hee. Wanita itu kemudian berjalan ke depan untuk duduk disamping Gal Hee. Dia adalah Veronica Park.

Gal Hee terkejut sekali, "Bagaimana Anda disini..."

"Sepertinya ada yang seru di perusahaan ini. Jadi, aku datang untuk menyaksikannya."

"Celaka. Jika dia melihatnya..." Gal Hee bergumam gugup.

"Melihat siapa?"

"Itu..."




Gal Hee berusaha membujuk Veronica untuk pergi, "Saya tahu ini akan terdengar aneh, tapi jika Anda kemari hanya untuk bersenang-senang, bisa tolong pergi saja? Bagi Anda, ini mungkin hal yang seru untuk dilihat. Tapi hidup saya sedang di ujung tanduk."

"Itu terdengar sangat aneh dan aku tidak mau pergi. Selain itu, berapa kali kubilang kamu harus memanfaatkan orang? Entah berapa banyak saham yang kamu miliki, apakah kamu mau menolong bosmu atau menjatuhkan bosmu."



Veronica melanjutkan, "Tapi apa pun itu, pikirmu kamu punya suara yang cukup untuk itu? Aku, di sisi lain, bisa memotong leher bosmu dan mengembalikannya lagi hanya dengan satu jari. Aku bisa memelintir dan meremas lehernya. Aku bisa melakukan apa pun. Bagaimana menurutmu? Kamu masih ingin aku pergi?"

  
Gal Hee gak bisa menjawabnya karena terpotong oleh perkataan Presdir Sim yang meminta Min Ik untuk menyampaikan penjelasannya.



Gal Hee menatap Min Ik yang berjalan menuju mimbar, lalu menatap Veronica lagi.

"Haruskah aku pergi?"



Gal Hee menatap Min Ik yang sudah ada di mimbar tanpa menjawab veronica.



Min Ik menatap hadirin dan ajaibnya ia bisa melihat semua wajah mereka semua.





Semua yang hitam putih menjadi berwarna.

Click to comment