Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis One Spring Night Episode 3 Part 1

Sumber: MBC




Ji Ho dan Jung In sama-sama saling melihat saat pertandingan basket jeda, dimana Gi Seok dan Jae In sedang mengobrolkan menu makan. 


Semua pemain kembali ke lapangan dan Jae In kembali duduk disamping Jung In.

"Dia sudah berubah, atau aku yang tak tahu? Pacarmu bisa cukup tegas." Ucap Jae In.

"Dalam hal apa?"

"Dari cara bicaranya dan auranya yang memancar. Dia selalu begitu?"

"Dia berusaha tak menunjukkannya, tapi harga dirinya tinggi."

Jae In manggut-manggut.



Saat bermain, Ji Ho terjatuh karena berbenturan dengan Gi Seok. Jung In berdiri khawatir. Jae In memenangkan karena yang jatuh bukan Gi Seok. Jung In membenarkan, tapi ia tetap khawatir, ia mengkhawatirkan Ji Ho.



Tiba-tiba Jae In mengatakan kalau dia menarik. Jung In mengira yang dimaksud adalah Gi Seok, tapi ternyata Ji Ho. 

"Aku terus memandanginya. Bukankah dia menarik?" Tanya Jae In.

"Aku belum melihatnya dengan jelas." Jung In berbohong.

"Tak perlu. Dia menonjol. Haruskah kugoda dia?"

"Kubilang, jaga sikap."

"Aku belum lakukan apa-apa."

"Jaga sikap agar tak mempermalukan Gi Seok Oppa!  "


Gi Seok membantu Ji Ho berdiri sambil meminta maaf, tapi ji Ho masih bisa lanjut main kah?

"Harus. Agar menang." Jawab Ji Ho.


Ji Ho melakukan lemparan dan masuk. 


Pertandingan usai. Jung In, Gi Seok dan Jae In bicara bertiga. Gi Seok bertanya pada Jae In, mau makan apaan? 

"Aku mau makan banyak, tapi ada yang bilang sebaiknya tak bilang." Jawab Jae In yang langsung dipelototi Jung In.

"Kau tak tampak bisa diintimidasi." sahut Gi Seok yang lalu menyuruh mereka memutuskan mau makan apa selagi ia ijin mandi.



Soo Ho menghampiri saat Gi Seok akan pergi, ia mengajak makan bareng dengan anak-anak. Gi Seok bilang mau makan dengan kedua perempuan itu, tapi Jae In langsung menyahut ingin bergabung dengan yang lain.

Jung In jelas memprotes Jae In, tapi Jae In tentu saja gak merasa bersalah apalagi Soo Ho mengijinkan keduanya bergabungatau jangan-jangan Gi Seok yang enggan bergabung. Gi Seok tentu saja langsung membantahnya.



Kemudian Gi Seok tanya ke Jung In, haruskah mereka ikut bergabung? Jung In gak mau mengganggu karena nanti mereka pasti canggung, ia menyuruh Gi Seok gabung semnetar aia dan Jae In akan makan di tempat lain. 

So Hoo: Astaga, tidak. Kami tak keberatan kalian ikut.



Ji Ho keluar, Gi Seok memanggilnya untuk mengajaknya gabung makan dengan yang lain. Tak lupa ia minta maaf lagi soal yang tadi.

"Tak apa. Jangan khawatir." Kata Ji Ho. 

"Aku jadi merasa bersalah."


So Hoo tiba-tiba mengajak Ji Ho bicara berdua, sedikit memaksa. Dan menyuruh Gi Seok pergi dulu, nanti ketemuan di tempat makan.


So Hoo, "Memangnya kau masih remaja? Jangan malu-malu. Katamu akan berkencan lagi, 'kan? Kau harus terbiasa berbaur dengan orang lebih dahulu."

"Aku tak bilang tak ikut."

"Hei, Yoo Ji Ho. Sikapmu aneh akhir-akhir ini."



Seo In mengeluarkan album foto dari dalam brankas. Bukan foto biasa ternyata, itu adalah foto lebam-lebam ditubuhnya yang ia kumpulin dan ia menambahi 'koleksinya' hari ini.

Ada yang memencet bel, Seo In cepat-cepat memasukkan kembali album itu kedalam brankas.



Yang datang adalah ibu dengan membawa makanan. Ibu kira suaminya Seo In sudah pulang. Seo In beralasan kalau suaminya sedang sibuk, lalu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya keadaan ayahnya setelah mereka pergi semalam.

"Jangan dibahas. Dia tampak kesal dan kecewa. Ibu pura-pura tak sadar saja."

Ibu baru membuat semur iga dan masih hangat. Seo In gak mau makan dengan alasan belum lapar.

"Kau punya masalah kesehatan?" Tanya Ibu. 

"Tidak, aku tak apa-apa. Ibu tak perlu bawa obat ini."



Ibu baru ingat, ia membukakan kotak obat untuk dimimun Seo In. Seo In menahannya, agar ibunya puas ia bilang akan minum nanti. Seo In meminta ibunya duduk sementara ia membuatkan kopi.

Ibu: Kapan pun kau bersikap begini, harusnya tak ibu izinkan Jung In dan Jae In menikah. Kau bukan tipe penyayang, tapi dahulu suka bercerita. Sejak menikah kau berubah.

Seo In: Aku akan kembali seperti dahulu.

Ibu: Bicara itu memang mudah.



Seo In membicarakan Jung In, jangan sampai Jung In menikah.  

"Selamanya?" Tanya Ibu.

"Kenapa tidak? Ibu berpikir menikah itu tak wajib, 'kan?"

"Ibu hidup bersama ayahmu selama 37 tahun terakhir. Ibu kolot seperti ayah. Kurasa itu lebih baik daripada tak pernah menikah. Kenapa? Jung In sering mengeluh padamu?"

"Tidak, perasaanku saja. Dia tak sepertiku. Dia dan Ayah sering berseteru. Dan Ibu akan tertekan karena harus memihak keduanya."

"Kau sendiri lebih sulit. Kau harus menghadapi segala macam hal dan menjadi contoh bagi adikmu. Semua tak lancar bagimu. Bahkan pernikahanmu..."

"Ibu urus saja Jung In."

"Dia tak mendengarkan ibu. Dia begitu keras kepala. Dia memang spesial."

"Setidaknya ada yang jujur."

"Benar."

Mereka mengakhirinya dengan senyum.



Jung In kebian duduk berhadapan dengan Ji Ho. Saat baru mulai makan, Gi Seok mengangkat gelasnya.

"Aku boleh bicara? Terima kasih sudah mengundangku. Aku sungguh senang. Aku tahu kalian jauh lebih muda daripadaku, tapi aku akan berusaha keras sebagai yang lebih tua. Akan kulakukan yang terbaik. Terima kasih, Semuanya!"

Kemudian mengajak bersulang. Yang lain menanggapinya dengan baik.



Jung In gak sengaja menjatuhkan sumpitnya. Ji Ho yang melihatnya langsung mengambilkan sumpit baru. Jung In baru aja mau memanggil pelayan, tapi Ji Ho keburu memberinya sumpit.

Setelahnya, Ji Ho berlagak gak peduli pada Jung In. 


Saat mau ke toilet, Jung In tak sengaja memergoki Ji Ho sedang menelepon putranya.

"Makan banyak agar kau kuat."

"..."

"Benar, kau tahu itu. Lalu kenapa makan sedikit?"

"..."

"Di TK?"


Jung In akan masuk ke toilet, tapi Ji Ho menarik tangannya. Ji Ho memberitahu kalau ada orang di dalam. Lalu ia agak menjauh. 



Ji Ho lanjut bicara dengan putranya, "Apa katamu, Eun Woo? Ayah tak dengar tadi. Katakan lagi."

"..."

"Em.. Hari ini ayah tak bisa. Kita bertemu tiga hari lagi."

"..."

"hehehe.. Baik. Dua hari, kalau begitu."

"..."

"Minum?" Sebelum melanjutkan, Ji Ho menoleh pada Jung In, "Ayah tak minum."

"..."

"Sungguh. Ayah tak bohong. Ayah tak boleh minum segelas?"

"..."

"Baiklah."


Orang yang ditoilet keluar. Jung In kemudian masuk. 


Saat Jung In keluar, ternyata Ji Ho masih ada disana. Jung In nanya, kenapa masih ada disana? Ji Ho bilang ia baru saja selesai menelepon.


Mereka jalan beriringan. 

"Eun Woo itu nama anakmu? Aku tak sengaja dengar. Kau pandai berbohong. Kau memang minum."

"Dia tak suka saat aku minum. Sebab itulah aku..."

"Aku benci berbohong."



Tiba-tiba Ji Ho berhenti, ia menyuruh Jung In masuk duluan, karena kalau barengan nanti mereka harus bohong.

"Kita baru saja dari toilet." Jawab Jung In.

"Baiklah. Lakukan sesukamu."



Lalu Jung In masuk duluan sementara Ji Ho menunggu.

Young Jae udah ada disana saat Ji Ho masuk. So Hoo bilang ia yang meneleponnya. Ji Ho senang karenanya. Mereka kembali bersulang.



Jae In mulai meracau, ia menunjuk Young Jae sambil bilang kalau dia calon PNS, tapi lupa saat menunjuk So Hoo.

"Maksudmu? Sudah kubilang, aku kerja bersama Gi Seok Hyeong." Protes So Hoo. 

"Benar juga. Kau kerja di bank. Kau digaji untuk sentuh uang."

Jung In menurunkan tangan Jae In, melarangnya minum lagi tapi Jae In menolaknya. 



Jae In beralih pada Ji Ho, apa pekerjaannya? Ji Ho ragu mau menjawab. So Hoo tiba-tiba mengajak untuk melakukan kuis. 

"Menurutmu, apa pekerjaannya? Semuanya, diam. Jangan bilang apa-apa. Tebaklah." Perintah So Hoo.

Gi Seok" Dia tak akan bisa menebak. Dia tahu dari mana?

Jae In: Pasti pekerjaannya aneh.

Jae In menyenggol Jung In, menyuruhnya menebak. Jung in melirik Ji Ho lalu menatap adiknya. 



Jae In mengangkat tangan, minta petunjuk. 

"Pengobatan." Kata So Hoo dan itu mebuat Jung In tersedak, Ji Ho hanya tersenyum saja.

"Dokter, ya?" Tebak Jae In. 

"Mirip."

"Apa yang mirip dokter?"

Gi Seok: Pikirkan bajunya.

Jae In: Apa?

Jung In keceplosan, "Jubahnya."



Sontak Ji Ho menatap Jung In pun Jung In menatap Ji Ho. Tapi Jung In buru-buru menundukkan kepala. 

Gi Seok menyenggolnya, "Apa? Kau tahu, ya?"

"Ya? Aku tak sengaja dengar." Jawab Jung In kaku.

Untungnya Ji Ho segera membenarkan alasan Jung In, "Ya, tadi kubilang aku apoteker."

Jae In: Tak heran dia tampak cerdas. Kau apoteker. Aku tak akan menduganya.


So Hoo: Omong-omong... Aku ingin bilang ini dari tadi. Kalian berdua cantik.

Young Jae: Benar.

Gi Seok: Baru sadar?

Jae In: Ada tiga wanita di keluarga kami, dan aku yang tercantik.




Semua ketawa tak percaya. Dan tiba-tiba Gi Seok merangkul Jung In sambil bilang kalau Jung In lah yang paling cantik. Semuanya kembali ketawa.

Jung In berusaha melepaskan rangkulan Gi Seok. Ji Ho hanya menatap tingkah Jung In itu sambil tersenyum lebar.



Ayah membuka kulkas, "Kita punya buah?"

Tanpa menjawab, ia berhenti menulis dan bangkit mengambilkan buah. 

Ayah mencariyahu apa yang ibu kerjakan.


Tak lama ibu kembali membawa jeruk.

"Kenapa kau melakukan itu dari tadi?" Tanya Ayah.

"Ini bak meditasi bagiku."

"Kenapa perlu bermeditasi?"

"Menurutmu salah siapa? Jangan memaksa anak-anak. Mereka sudah dewasa."

"Tapi belum sungguh dewasa. Mereka buat kekacauan karena kau memanjakan mereka. Beraninya mereka melawan ayahnya?"

"Lupakanlah. Seharusnya tak kuungkit."

"Saat Jae In datang setelah lulus, aku akan segera menikahkannya."

"Kita sudah kesulitan dengan Jung In."

"Apa maksudmu..."

"Pikirkanlah sebelum ambil keputusan. Itu keinginan Jung In juga."

"Dia tahu apa? Bekerja beberapa tahun tak mengajarkan apa pun. Alih-alih buang waktu di sini, sebaiknya kau pelajari cara kerja dunia."

"Belajarlah sesukamu. Pak Kepala Sekolah, pelajarilah soal dunia semaumu."



Ibu kesal dan menjauh, tapi kembali saat ayah memanggilnya, "Hei!"

"Memangnya namaku "Hei"? Bahkan anjing punya nama!"

"Astaga, kau kenapa hari ini?"

Ibu mendekati ayah sambil membusungkan dada, "Jika kau begitu lagi, tak akan kubiarkan..."

Ayah mundur ketakutan sampai jatoh. 

"Kau menyedihkan." Kata ibu lalu meninggalkan ayah.

Click to comment