Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis One Spring Night Episode 1 Part 1

Sumber: MBC



Dua orang wanita sedang jalan bersama dengan membawa belanjaan.

"Bicara soal cari bahagia dalam kemonotonan. Lalu minum bersama teman. Bukankah itu sempurna?"

"Pasti lebih baik jika bersama pacar."

"Aku tak setuju."

"Berikan pacarmu padaku. Kuberikan ini saja, ya."


Wanita yang dipanggil Young Joo oleh temennya itu melarikan diri setelah memberikan kantong belanjaan pada Lee Jung In (Han Ji Min). 

Jung In mengejarnya kesal.



Mereka ada di rumah Young Joo dan sekarang sedang mempersiapkan acara minum-minum. Jung In bertanya, masih punya kimchi yang pernah ia berikan waktu itu? 

"Akan kubawakan." Jawab Young Joo.


Ponsel Jung In yang di tas bergetar, Young Joo memberitahunya. Jung In mengeceknya dan ternyata itu telepon dari pacarnya, Kwon Gi Seok.


"Hei, masih di sana?" Tanya Gi Seok. 

"Aku di rumah Yeong-ju untuk ronde kedua."

"Begitu. Kapan kau akan pulang?"

"Mungkin sebentar lagi. Jika kemalaman, aku menginap."

"Besok sif kerjamu sore?"

"Ya. Tapi hari Sabtu, harus di sana sebelum siang."

"Baik."

"Makan malam tim selesai?"

"Mereka mau cari minum, tapi aku main basket besok, jadi, pulang. Aku diundang ke klub basket yang dibentuk alumni kampusku."

"Begitukah? Kau harus ikut."

"Baiklah. Sampai besok."

"Baik, dah."

"Dah."



Young Joo memprotes gaya pacaran Jung In,  "Kalian pacaran. Bukankah orang berpacaran saling mengucapkan "aku mencintaimu" sebelum menutup telepon?"

"Yang benar saja."

"Itu sebab hubungan jangka panjang buruk."

"Hei, tergantung orangnya. Kami tak pernah bermesraan sejak awal. Kau tahu itu."

"Benar, kalian selalu tampak bak pasangan paruh baya."

"Kami tak seburuk itu."

"Aku tak pernah iri pada hubunganmu."

"Tadi kau minta pacarku."

"Simpan saja dia."



Dalam sebuah pertandingan basket, ada seorang yang paling bersinar, dia adalah Yoo Ji Ho (Jung Hae In). 




Permainan usai. Pelatih memberikan pengarahan, tapi Ji Ho malah pamit pergi duluan.




Seorang Choi Hyun Soo mengenalkan Ji Hoo dengan Gi Seok (nomor 5). Teman itu pernah menceritakan tentang Ji Ho pada Gi Seok, tapi Gi Seok tidak ingat.

"Kau juga mulai kuliah tahun 2004?" Tanya Gi Seok.

"Benar. Aku Yu Ji Ho."

"Senang bisa bertemu. Aku Kwon Gi Seok."

Hyun Soo menyuruh Gi Seok bicara santai saja pada Ji Ho karena Gi Seok lebih senior. 

Hyun Soo: Hajar saja semua lawanmu. Kalau soal basket, dia sombong.

Ji Ho: Kau tak ada apa-apanya.

Maka Gi Seok pun bicara santai pada Ji Ho, "Ini sungguh menarik. Kita main bersama lain kali.

"Ya, tentu. Aku takkan meremehkanmu."

"Sebaiknya jangan." 

Ji Ho pamit.



Jung In bangun kesiangan, ia langsung berdiri dan lari keluar, bahkan memakai mantel di luar.



Tapi saat mau nyebrang ia mual banget karena habis minum semalam. Untungnya dibelakangnya ada apotik, apotiknya Ji Ho.



Jung In masuk ke sana, minta obat untuk pengar, yang kuat. Ji Hoo memberikannya, bahkan membukakan tutup botolnya.

Di sana ada cermin, Jung In menggunakannya untuk merapikan diri dan ia rasa ia butuh karet rambut, ia pun minta pada Ji Ho.



Ji Ho memberinya karet gelang karena hanya itu yang ia punya. Jung In berterimakasih dan menggunakannya. 

Ji Hoo menyodorkan kembali obatnya, juga membukakan pembungkus obat yang pil.



Setelah meminum semuanya Jung In bertanya, berapa semuanya? Enam ribu won, jawab Ji Ho.

Jung In membuka tas, tapi gak menemukan dompet disana.

"Dompetmu hilang?" Tanya Ji Ho.

"Tidak. Aneh sekali. Semalam, aku... Lupakan. Tunggu sebentar, ya."


Jung In menghubungi Young Joo, tapi gak dijawab, tentu saja karena Young Joo kemungkinan masih tidur.



Jung In: Tampaknya tertinggal di rumah temanku. Bagaimana ini?

Ji Ho: Di mana rumah temanmu?

Jung In menunjuk arah rumah Young Joo, "Dia tinggal di sana."

"Kau yakin dompetmu di sana?"

"Aku cukup yakin... Tidak, aku tahu pasti ada di sana. Tunggu sebentar, ya."



Jung In menghubungi Young Joo agi, tapi gak dijawab, " Aku sedang terburu-buru. Aku akan kembali malam ini dan... Sebenarnya, temanku masih tidur. Begitu dia bangun, akan kuminta..."

"Kau boleh pergi."

"Tidak, aku harus membayarnya. Berikan nomor rekeningmu. Akan segera kukirim padamu."

"Pergi saja. Katamu akan bayar. Begitu saja."

"Maafkan aku. Aku akan kembali dan membayarnya."




Jung In pun melangkah keluar, tapi ia kembali, "Maaf, tunggu dahulu. Bukan aku yang buka."

"Apa?"

"Kau yang membuka botol itu. Aku tak bilang ingin meminumnya."

"Kau meminta obat pengar."

"Memang. Tapi aku tak memintamu membuka botolnya untukku."

"Benar, itu salahku. Katamu sedang terburu-buru."

"Haruskah kuberikan nomorku? Untuk berjaga-jaga. Aku pasti kembali dan membayarnya untuk jaga-jaga kau tak percaya. Sulit percaya orang di zaman ini, jadi, aku paham."


Akhirnya Ji Ho mengatakan nomornya, "Nol, satu, nol. Empat, lima, sembilan, tiga.."




Jung In menunggu taksi. Ji Ho keluar menghampirinya, memberinya uang ongkos taksi.

"Kau tak perlu lakukan ini." Kata Jung In, tapi ia menengadahkan tangannya untuk menerima uang Ji Ho.

"Kau butuh lagi?"

Jung in menggeleng.

"Aku bukan memberikannya. Bayarlah kembali."

Jung In mengangguk.

"Siapa namamu? Aku Yu Ji Ho."

"Aku Lee Jung In."

"Hati-hati di jalan, Nona Lee Jeong In."

Dan Ji Ho kembali ke dalam apotek.


Di dalam taksi, Jung In menghubungi Young Joo. Kata Young Joo dompet Jung In ada di kantong dari toserba, mungkin semalam Jung In memasukkannya kesana setelah membeli bir.

"Akan kuambil sepulang kerja, atau jika sudah malam... Pokoknya, simpan dahulu."

"Bagaimana bisa kau bayar taksi?"


Jung In menatap uang pemberian Ji Ho, "Akan kupanggil Ha Rin dan memintanya turun. Hei, jika kau lewat apotek itu... Lupakan."

"Apotek? Kenapa? Kau sakit?"

"Aku tidak apa. Pokoknya, simpan dompetku, ya? Dah."



Jung In menulis nomor Ji Ho diponselnya dan anehnya ia ingat jelas nomor Ji Ho padahal cuma disebutkan sekali.

 
Kakak perempuan Jung In, Lee Seo In, saat ini sedang membawakan berita pukul 12 bersama rekannya.



Setelah kamera dimatikan, Seo In membaca pesan dari suaminya, Nam Shi Hoon, "Jangan sentuh barang-barangku."



Sebenarnya Shi Hoon sekarang ada di rumah. Setelah mengirim pesan itu, ia mengambil frame foto lalu membantingnya.



Jung In makan bareng Ha Rin. Ha Rin bilang sup itu bisa menyembuhkan pengarnya, tapi tidak untuk Jung In. Jung In merasa terlalu banyak minum.

"Sungguh? Andai bertemu orang bisa begini. Aku mau bertemu orang yang kian menyukaiku walau tak kuduga."



Jung In: Kau hanya butuh pertemuan pertama untuk terpikat seseorang, seperti takdir.

Ha Rin: Astaga. Kau bahkan tak percaya horoskop. Ada apa denganmu?

Jung In: Itu membuatku serasa dicuci otak. "Jangan begini. Jangan ke sana." Aku tak suka.

Ha Rin: Tapi kau juga tak suka bertualang.

Jung In: Hei, siapa yang sempat bertualang? Kau harus kuliah, dapat gelar, dan dapat pekerjaan. Setelahnya, kau sibuk kerja, berkumpul dengan teman.

Ha Rin: Kenapa tak kencan? Itu akar segala masalah.

Jung In: Syukurlah, bahkan hal itu tak pernah bermasalah dalam hidupku.

Ha Rin: Aku tak mau berpacaran yang terlalu membosankan.

Jung In: "Membosankan"?

Ha Rin: Ya.


Jung In krmbali membuka ponselnya. Gi Seok menghubungi, bertanya kenapa Jung In bertanya berapa nomor rekeningnya melalui pesan.

"Itu, ya. Itu untuk orang lain. Kurasa aku salah kirim. Maafkan aku."

"Untuk siapa?"

"Apa?"

"Untuk siapa?"

"Klienku. Perusahaan penerbitan."



Di apotek, Ji Ho sibuk melayani pelanggan atau meracik obat.



Setelah mencuci tangan, Jung In mengecek pesannya untuk Ji Ho dan belum ada balasan.

Kemudian Jung In melepas ikat rambutnya dan membuangnya.


Sift kerja Jung In berakhir, ia baru mengecek ponselnya. Kayaknya ia membaca pesan Jung In.

Click to comment