Type something and hit enter

On
advertise here
Sinopsis Kill It Episode 2 Part 3

Sumber: OCN
Hyun Jin menyusul Seul Gi, ia ikut naik lift. 

"Liftnya tidak berhenti di lantai empat." Kata Seul Gi.

"Aku tahu itu hanya untuk pemilik gedung. Aku akan turun lewat tangga."

Seul Gi agak menjauh dan pintu tertutup.

Saat akan turun, mereka mau barengan. Seul Gi mengalah mundur dan membiarkan Hyun Jin keluar duluan.
Setelah di luar, Seul Gi mengeluarkan uneg-unegnya. 

"Ada apa? Setelah tahu aku yatim piatu, kamu mengasihaniku? Ahjumma bersimpati kepadaku?"

"Yatim piatu lain hidup hanya dengan 5.000 dolar. Aku tidak kasihan kepada yatim piatu pemilik gedung lima lantai. Jangan suka memberontak. Itu sebabnya orang tidak suka yatim piatu dan mengasihani mereka."

"Tahu apa kamu? Kamu tahu rasanya menjadi yatim piatu? Tahukah kamu rasanya hidup bersembunyi karena takut bertemu kerabat yang haus harta? Kamu tidak paham."

"Kamu salah."

"Dasar sombong. Kamu angkuh sekali."

"Jaga ucapanmu. Ucapanmu tidak hanya menyakiti orang yang kamu hina, tapi juga dirimu sendiri."

"Tahu apa kamu? Apa hakmu mencampuri hidupku?"

"Sebagai yang menyelamatkanmu.. dan orang dewasa yang memahamimu, aku berhak."

"Aku bukan anak kecil. Aku juga tidak butuh pengertianmu."

Seul Gi masuk ke kamarnya.
Saat Soo Hyun membuka pintu, Hyun Jin turun dan mengajaknya bicara.

"Apa perlahan aku akan menyukai anak tidak sopan itu? Kenapa rasanya aku telah membuat kesalahan?" Tanya Hyun Jin. 

"Setiap orang memiliki rahasia."

"Sebagai polisi yang hadir di TKP, kukira aku berhak tahu."

"Ucapanmu lebih seperti nasihat konyol karena merasa terhibur atau penasaran. Alih-alih menenangkannya, kamu terkesan menyerangnya."

"Sepertinya.. aku sudah salah bicara."

"Tidak usah pedulikan Seul Gi lagi. Jangan terlibat dalam hal berbahaya. Abaikan semuanya."
Seul Gi ternyata ada di tangga dan ia jelas mendengar semuanya.
Hyun Jin: Ya, tapi tahu tidak? Aku tidak merasa terhibur atau penasaran akan penderitaan orang lain. Aku salah paham. Kukira niat kita sama walau subjek kita berbeda. Sebagaimana kamu ingin merawat hewan telantar, aku juga ingin membantu orang lain. Maaf sudah mengganggumu.

Hyun Jin lalu masuk ke apartemennya.
Soo Hyun kembali ke klinik dan Seul Gi menyusulnya.

Seul Gi: Kamu selalu memihakku, bukan?

Soo Hyun hanya diam.

Seul Gi: Kenapa diam saja? Apa aku terlalu ketus kepadanya? Kamu lebih menyebalkan.
Seul Gi menghela nafas, "Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menolongku, tapi kita malah mengejeknya. Dia pasti marah. Kamu tidak menyelesaikan salah paham ini?"

"Lebih baik begini. Naiklah."

Seul Gi menurut.
Philip menemui rumahnya dalam keadaan kacau. Ia melihat CCTV dan ternyata semua itu ulah mafia Rusia suruhan Karimov.
Philip langsung menghubungi Soo Hyun. 

"Hei, Soo Hyun. Kamu baik-baik saja?"

"Apa seharusnya tidak baik?"

"Jangan asal bicara. Aku khawatir kamu malah menyelidiki klien saat aku pergi."

"Jangan ikut campur."

"Mana bisa aku mengabaikan temanku? Kita ambil jalan aman saja. Toh masa lalumu akan terungkap setelah semua ini selesai."

"Pernahkah ada jalan yang aman untukku?"

"Baiklah. Lupakan jika kamu baik-baik saja."
Soo Hyun tiba-tiba bertanya, apa Philip bisa berjuang untuk orang asing?

"Untuk apa? Aku bisa meminta bantuanmu."

"Kenapa ada yang berjuang untuk orang yang asing baginya?"

"Uang. Semuanya perkara uang. Apa lagi? Bisa apa kamu tanpaku?"

"Kututup."

Soo Hyun selalu melakukan apa maunya tanpa mendengarkan Philip. 

Philip bicara sendiri, "Soo Hyun, itu bukan hanya karena uang. Kamu hanya belum memahaminya. Apa dia akan membantu seseorang secara cuma-cuma?"

Kesel dong, "Bedebah ini sebaiknya diapakan?"
Soo Hyun mengambil foto Hyun Jin yang ia simpan di laci bersama pesawat kertas usang. Lalu menempelnya bersama foto yang ada kaitannya dengan masa lalunya. 
Hyun Jin heran pagi ini karena kardus yang ada di depan apartemennya hilang. Tanpa Hyun Jin tahu tadi ada yang membuang semua kardus itu.

Hyun Jin juga heran melihat liftnya berhenti di lantai empat. Ia menggunakannya walau khawatir liftnya akan jatuh.
Sementara itu, Seul Gi celingukan memandangi mobilnya Hyun Jin. 

"Nanti kamu terlambat. Cepat berangkat." Kata Soo Hyun.

"Eonni di lantai empat itu kesiangan."

Soo Hyun menatapnya heran. 

"Apa? Kenapa?" Seul Gi yang sewot. 

"Kemarin kamu masih memanggilnya "Ahjumma"."

"Jujur saja, dia terlalu cantik untuk dipanggil "Ahjumma". Jika memanggilnya "Ahjumma", aku terkesan iri. Aku lebih cantik."
Hyun Jin turun. Seul Gi hebih sendiri dan langsung sembunyi.

Seul Gi: Apakah aneh jika aku memberinya roti lapis?

Soo Hyun: Ya.

Seul Gi keluar dengan membawa roti lapisnya.

Soo Hyun dan Grey memandangi mobil Hyun Jin yang lama-lama menjauh. 
Yoon Seung menunjukkan foto dari CCTV yang menangkap sosok tersangka, "Ini pukul 15.21, saat tersangka terlihat membeli tas itu. Lalu ini empat jam sebelum kematian Yoo Dae Heon. Rekaman ini sudah dipulihkan dari kotak hitam. Orang ini, yang diduga Kim Jong Sik, terlihat masuk, tapi tidak keluar lagi. Jika dia benar Kim Jong Sik, alibinya bisa dibuktikan."

"Apa menurutmu keduanya orang yang sama?"

"Bukan. Kesamaan mereka hanya warna pakaian."

"Benar, bukan? Maka pembunuh sesungguhnya memakai kartu kredit Kim Jong Sik untuk membeli peralatan mendaki, mencuri jarum suntik bekas KIm Jong Sik, dan memakainya untuk membunuh Yoo Dae Heon. Ada bukti lain untuk membuktikan alibi Kim Jong Sik?"

"Entahlah. Hanya ini petunjuk kita. Fotonya kurang jelas."

"Gara-gara aku, kamu mengurus kasus yang ditutup. Maaf. Kamu boleh mundur jika ini merepotkan. Aku bisa sendiri."

"Tidak bisa begitu. Aku setia. Beginilah aku."

Keduanya ketawa.
Hyun Jin mengambil foto Kim Jong Sik, "Dia menyentuh hidungnya dan mendengus. Kim Jong Sik juga menggigil seperti demam. Itu jelas kebiasaan pecandu narkoba. Tapi itu tidak tersorot di CCTV. Bukti yang diserahkan ke kejaksaan dipalsukan. Alibi Kim Jong Sik pada hari pembunuhan pun aneh. Kim Jong Sik tampaknya tidak bisa mendaki. Bagaimana dia bisa memanjat tebing tanpa alat? Bagaimana? Andai kamu adalah jaksa, kamu akan percaya?"

"Aku?"

"Ya, jika kamu jaksa yang logis dan tidak dikekang atasanmu."

"Tidak ada orang seperti itu."
Asisten Inspektur Park menguping mereka, tapi ada yang memergoki, "Lihat apa kamu?"

"Astaga. Entahlah. Mereka ribut mencari pembunuh Yoo Dae Heon."

"Diamlah. Keluarlah bersama mereka."

"Kenapa?"

"Mata-mata kita menghubungi."

"Kenapa?"

"Katanya, Geng Tunnel merencanakan sesuatu."
AI Park memimpin rapat, "Video ini dikirim mata-mata kita. Ini bos Geng Tunnel, Lee Choong Heon. Mereka belakangan berbisnis mancanegara dengan mafia Rusia."

Ketua Tim: Detektif Do. Kamu tahu proses perdagangan manusia mancanegara?

Hyun Jin: Ya. Seperti video yang sudah kita lihat, target utamanya gadis yang lari dari rumah. Usai diculik, korban secara rutin disuntik narkoba dan diperkosa. Lalu mereka dibawa mengitari Korea berbulan-bulan. Saat korban sudah kecanduan narkoba, kemauan dan tenaga korban untuk kabur akan hilang. Lalu mereka dijual ke bordil di Rusia atau Asia Tenggara.

Ketua Tim: Benar. Bukankah bagus jika kita mengurus kasus internasional dan dipuji oleh Komandan? 

Yoon Seung: Baik, kita akan bersiap-siap.
Hyun Jin ditelfon untuk pulang dan ia gelisah banget kayaknya. Di rumah, Nyonya Do memakaikan beberapa gaun tapi gak ada yang muat. 

"Ibu, ini sudah yang ke-12."

"Apa beratmu bertambah?"
Nyonya Do meminta data dari Pelatih Han, "Siklus menstruasimu teratur. Astaga. Total berat badanmu sama, tapi lemakmu bertambah 1,5 kg. Kamu makan makanan lain diam-diam? Sebaiknya Ibu mengirimkan makanan diet ke rumah barumu. Pikirmu Ibu tidak tahu?"

"Bukan begitu. Aku tidak mengabari karena kupikir Ibu pasti tahu."

"Do Hyun Jin."

"Maaf."

Nyonya Do meminta para eatih menyiapkan semuanya untuk Hyun Jin.
Nyonya Do memegang kedua bahu Hyun Jin, "Kamu putri yang sempurna. Ingat itu selalu."

Lalu Nyonya Do keluar. 
Hyun Jin menatap cermin dengan mata berkaca-kaca, ia ingat pertama kali masuk ke kamar itu.
Hyun Jin melihat foto putri kandung Nyonya Do dan melihat foto seorang balerina.
Lalu Pimpinan Do masuk, "Anna Ilyarova. Dia balerina favoritmu dan ibumu. Ingat itu. Kamu dan ibumu menyukai penampilannya dalam "Swan's Winter"."
Selanjutnya Nyonya Do yang masuk, :Kamu tahu balerina di foto itu?"

Sebelum menjawab, Hyun Jin memandang Pimpinan Do. Pimpinan Do mengangguk. Hyun Jin pun menjawab. 

"Anna Ilyarova. Dia balerina favoritku."

"Kamu tahu.. pertunjukan apa yang kini dia tampilkan?"

""Swan's Winter"."

Nyonya Do langsung mendekat dan memeluk Hyun Jin, "Putriku... Kamu harus terus berada di sisi ibu. Jangan meninggalkan ibu. Ya?"
Begitulah cerita Hyun Jin yang harus terus mengikuti kemauan ibunya.
Pimpinan Do menegaskan, "Histeria ibumu tidak bisa diatasi dengan obat penenang. Jangan lupa angkat teleponnya. Ingat alasan kami membawamu kemari. Jangan terlalu mencolok, tapi jangan menghilang. Cukup urus ibumu."

"Baik."

Click to comment