Type something and hit enter

On
advertise here

Dal Nim berlari menuju kafe Ryang Ha. Dia menginformasikan kalau ada Wanita yang memiliki tubuh yang sangat ramping dan wajah yang Murni dan bersih seperti bayi. Dal Nim lemas, melihat ekspresi Ryang Ha ia yakin kalau Soo Ho dan wanita itu pasti sangat dekat.

"Kapan dan di mana kau melihatnya?" Tanya Ryang Ha yang mengira kalau itu adalah Famme fatale.

"Dia dari Sports IM. Dia agen Gary Choi. Ini seperti kerajaan es di sana sekarang. Udara sangat dingin." Jawab Dal Nim.



Amy merasa kalau ia pasti mengejutkan SOo Ho karena ia juga merasa hal yang sama. Zeze Factory, Je Soo Ho meneleponnya. Soo Ho menjawab cuek kalau dia tidak menelfon AMy. Amy memerintah Soo Ho untuk menatapnya. Tapi SOo Ho masih belum juga mendongakkan kepalanya.

"Segera setelah aku meninggalkan San Francisco, Aku mengubah jurusanku ke manajemen olahraga. Astronomi dan fisika tidak pernah aku pikirkan. Kau tahu itu lebih baik dari aku kan." Jelas Amy.

Soo Ho menanyakan alasan Amy menyuruhnya menulis thesis Amy. Si polos Je Soo Ho akan melakukan apa pun untuk Amy.

"Soo Ho ~ aa."

Soo Ho menggebrak meja lalu berdiri.."Mulai sekarang, bicaralah dengan orang yang bertanggung jawab, dan jangan pernah... memanggilku seperti itu." Setelah itu dia keluar dari ruangan.


Bo Nui baru kembali ke kantor tapi rekan-rekannya mengajaknya pergi lagi untuk makan bersama. Sampai di tempat makan, Dae Kwon bercerita menggebu-gebu tentang Amy dan Soo Ho, dia sangat yakin tentang hal itu. Mata dan kemarahan itu. Cinta dan kebencian dicampur dan menciptakan percikan api. Dan itu masih berlanjut.

"Ini bukan cinta. Ketika ia masih kecil, ada banyak orang yang mencoba untuk menggunakan dia untuk keuntungan mereka. Aku yakin dia adalah penipu yang lari dengan uangnya." Elak Dal Nim.

Seung Hyun menjelaskan kalau semuanya jelas kentara kalau ini adalah penghianatan, menurutnya, Amy adalah mantan pacar Soo Ho  yang telah menipu Soo Ho.

Ada yang menanyakan apa Amy cantik atau tidak. Dae Kwon manjawab kalau Amy luar biasa. Yang lain menyahut, ternyata Soo Ho manusia juga yang memiliki kisah cinta. Dan sekarang mereka mulai khawatir dengan rencana kerjasama dengan Agry Choi.

"Aku tidak tahu. Aku pikir akan sulit bagi mereka untuk bekerja bersama-sama. Kita celaka." Jawab Dae Kwon.


Ryang Ha masuk ke ruangan Soo Ho untuk mengajaknya minum-minum tapi ruangan itu kosong, dia pun kembali keluar.

Soo Ho sendirian di sebuah lorong. Dia mengingat masa lalunya.

-= Kilas balik =-


Masa kuliah Soo Ho di San Francisco. Teman-temannya memanggilnya Einstein. Saat dia tengah asyik belajar teman-temannya membawanya paksa lalu menyeburkannya ke danau. 

Soo Ho sudah hampir tenggelam karena dia tidak bisa berenang, untung ada seseorang yang menyelamatkannya dan membawanya ke tepi. Tidak hanya itu, orang itu juga menghajar anak-anak yang menjahili Soo Ho. Orang itu adalah Amy dan itu adalah pertemuan pertama mereka.


Selanjutnya Amy mengajak Soo Ho untuk berteman. Soo Ho awalnya tidak mau karena adalah untuk orang-orang yang menganggur dan ia sangat sibuk belajar. Tapi AMy terus memaksa. Dia bersedia untuk menjadi teman SOo Ho dengan syarat kalau SOo Ho harus menyembunyikan hal ini dari ayahnya.

"Tutormu Peter Han adalah ayahku." Lanjut Amy.

-= Kilas balik selesai =-


Soo Ho keluar kantor dengan menuntun sepedanya. Bo Nui melihatnya dan menyapanya namun dia keduluan sama Ryang Ha yang mengajak SOo Ho untuk minum-minum. Bo Nui pun membalikkan badannya agar tak terlihat oleh keduanya.

"Aku ingin tahu apa dia baik-baik saja." Ujar Bo Nui.


Ibu datang ke kantor Soo Ho tapi petugas tidak mengijinkannya masuk karena itu adalah perintah Soo Ho. Petugas kuwalahan menangani Ibu untung Ryang Ha datang dan berhasil membujuk ibu untuk keluar.

"Soo Ho seperti singa yang siap menerkam hari ini. Aku khawatir dia akan menyakiti hati manismu jika kau pergi menemuinya sekarang. Kau dapat kembali lagi nanti. Kau tampak cantik hari ini." Bujuk Ryang Ha.


Kemudian Ibu melihat Bo Nui dan membaca kalung pengenak Bo Nui bahwa Bo Nui bekerja di Zeze Factory. Ibu minta bantuan Bo Nui, dia memberikan kertas jimat pada Bo Nui. Bo Nui langsung tahu kalau itu adalah jimat keberuntungan. Ibu tak menyangka kalau gadis muda seperti Bo Nui tahu begituan.

"Ini untuk mencegah nasib buruk." Imbuh Bo Nui.

Ibu senang menemui kenyataan kalau Soo Ho memiliki pegawai yang seperti Bo Nui. Ibu meminta Bo Nui untuk meletakkan jimat itu di ruangan Soo Ho secara rahasia. Bo Nui mengerti dan berjanji akan melakukannuya.

Bo Nui kemudian bertanya, apa makanan kesukaan Soo Ho karena dia harus menyiapkan sebuah restoran untuk makan malam tim.

"Makanan? Seafood. Dia dulu suka ikan waktu dia kecil. Kami dulu tinggal di tepi pantai." Jawab Ibu.


Bo Nui masuk ke ruangan Soo Ho yang sedang kosong dengan membawa jimat dan sebungkus makanan. Terlebih dahulu dia mengecek jimat yang dipasangnya dulu di bawah meja Soo Ho yang ternyata masih aman. Kemudian dia menuju rak buku dan menyelipkan jimat titipan ibu Soo Ho disalah satu buku.

Saat Bo Nui mengembalikan buku itu ke tempat semula. Soo Ho masuk ke ruangannya. Soo Ho bertanya, sedang apa Bo Nui di ruangannya. Bo Nui terkejut dan itu membuatnya cegukan dan batuk-batuk.

"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang salah denganmu?" Tanya Soo Ho.

Bo Nui menjawab kalau dia baik-baik saja lalu dia memberikan makanan yang dibawanya untuk Soo Ho karena Soo Ho melewatkan makan siang. Makanan yang dibawa Bo Nui adalah sandwich tuna.


Bo Nui keluar, Soo Ho melemparkan sandwich ke tong sampah. Dia tak mengira kalau Bo Nui masuk lagi dan melihat hal itu. Soo Ho mengatakan kalau dia tidak makan ikan karena tidak tahan baunya.

"Aaah. Aku mengerti."

Bo Nui lalu mengingatkan Soo Ho agar tidak lupa tentang kencan mereka besok. Soo Ho sepertinya lupa tapi dia berlagak ingat dan dia menawarkan diri untuk memilih tempat dan...

"Tidak, aku yang akan memilihnya. Aku akan mengirimu SMS di mana kita bertemu. Waktumu adalah milikku." Tolak Bo Nui lalu pergi.


Bo Nui memilih baju untuk kencannya. Kemudian memesan hotel lewat ponselnya.


Saatnya berangkat kencan. Gary baru saja kembali dan dia bertemu dengan Bo Nui di depan gedung apartemen. gary bertanya, Bo Nui mau kemana? Kencan kah?

"Tidak, ini untuk pekerjaan. Ini sesuatu yang aku tidak bisa lewatkan." Jawab Bo Nui.

Gary heran, ini kan sabtu sore, kok Bos Bo Nui masih saja memintanya bekerja. Bo Nui mengatakan kalau tidak ada yang bisa ia lakukan dan harus menyelesaikan ini sesegera mungkin.

"Jangan mengganti makananmu dengan susu. Pastikan kau makan nasi." Ujar Bo Nui untuk Gary.

"Pastikan kau tidak melewatkan makanan apapun sendiri."

Sebelum pergi Bo Nui minta Gary untuk memberinya semangat. Gary pun melakukannya dengan patuh.


Bo Nui sudah ada di depan hotel, dia sangat gugup. dan saat Soo Ho datang. Bo Nui meminum obat. 

"Kenapa kau menunggu di sini?" Tanya Soo Ho cuek lalu berjalan masuk.

Soo Ho menjalani kencan ini setengah hati, dia tampaknya tidak tertarik sama sekali dan tiap kali diajak bicara sama Bo Nui jawabannya cuek bebek. Saat ditanya Bo Nui apa Soo Ho sudah makan, Soo Ho menjawab kalau dia belum makan  tapi dia tidak lapar, tapi jika Bo Nui ingin makan maka ia temani karena mamang itu kencan yang normal.

Bo Nui mengajak Soo Ho untuk makan di kamar hotel. Soo Ho tidak bisa berkata apapun. Bo Nui beralasan kalau dia memenangkan kontes promosi.

"Kau tahu hotel ini memiliki pemandangan malam yang terbaik, kan? Aku tidak pernah beruntung kalau tentang beginian, tapi aku kira alam semesta ingin kencan kita supaya jadi kencan yang benar-benar hebat. Aku memenangkan satu malam menginap di hotel ini." Jelas Bo Nui.

Soo Ho belum bicara apapun. Bo Nui kembali membujuk, dia mengajak Soo Ho kesana 4,5 jam saja karena dia mendapatkan sewa kamar juga secara gratis dan ingin memeriksa kamarnya.

"Bisa tolong berhenti mengerutkan kening seperti itu?" Pinta Bo Nui, Soo Ho pun mencoba bersikap biasa.

Bo Nui belum menyerah, dia mengatakan kalau di dalam kamar itu tenang jadi mereka juga dapat berbicara tentang IF.

"Oh, benar. Aku yakin Gary Choi pasti tinggal di kamar hotel... ketika dia di luar negeri untuk laga tandang. Kita dapat mencakup itu dalam IF. 'Pengalaman Hotel Bintang Lima'. Pikirkan tentang itu. Aku yakin banyak orang bahkan tidak bisa bermimpi... tinggal di tempat seperti ini sepanjang hidup mereka. Mengalami hal semacam ini sekali dalam hidup seseorang adalah..." Jelas Bo Nui.

Soo Ho mendadak berdiri menghentikan Bo Nui. Bo Nui sudah takut kalau Soo Ho mau menolak tapi kemudian Soo Ho mengambil kupon yang dipegang Bo Nui dan mengajaknya untuk makan.


Bo Nui sudah mulai makan tapi Soo Ho hanya berdiam diri. Bo Nui menyuruh Soo Ho untuk makan juga karena ia sengaja pesan steak salmon demi Soo Ho.

"Aku sudah katakan kepadamu. Aku tidak makan ikan karena bau." Jawab Soo Ho.

Bo Nui heran, bukannya dulu rumah SOo Ho di dekat laut dan waktu kecil Soo Ho suka makan ikan. Soo Ho curiga, apa Bo Nui juga menyelidiki latarbelakangnya.

"Nah, kau dulu sangat terkenal... dahulu kala." Alasan Bo Nui.

Soo Ho mengoreksi kalau ia juga masih terkenal sekarang. Dan menjelaskan kalau ia sekarang sudah berubah, tidak lagimakan ikan. Lalu Bo Nui menyodorkan sekeranjang roti, tapi Soo Ho hanya minum air. Bo Nui mencoba bertanya, lalu apa yang Soo Ho sukai? makanan jenis apa?

"Aku suka pil. Itulah yang akan aku lakukan pada saat aku pensiun. Sesuatu yang akan memberikan semua energi yang kau butuhkan dalam satu pil." Jawab Soo Ho.

"Kau bahkan tidak tahu sukacita makan. Bagaimana kau bisa hidup seperti itu?"

"Kau suka permen, cokelat dan hal-hal yang dibuat dengan tepung, bukan?"

"Iya! Aku bisa makan roti, kue beras dan mie sepanjang hari. "

"Itu menunjukkan betapa tidak bahagianya dirimu  dengan hidupmu. Tubuhmu kekurangan serotonin dan dopamin, dan kau merasa cemas. Ini membuatmu makan berlebihan dan menjadi terobsesi dengan makanan. Itulah alasannya."

"Bagaimana kau tahu? Aku sangat tidak bahagia dengan hidupku. Tapi sesuatunya akan menjadi lebih baik dari sekarang. 'Sesuatu yang hebat. Aku baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja." Kau harus terus mengatakan hal-hal positif untuk menerima energi positif. Jadi kau juga harus..."

"Itu disonansi kognitif. Lebih mudahnya, kau mencoba untuk melarikan diri dari "

"Kau terdengar begitu... Cerdas."

"Aku Je Soo Ho, Si Jenius."

Bo Nui tertawa garing.


Bo Nui akan minum air. Soo Ho tidak melihatnya, maka dirinya sengaja menyiram tubuhnya sendiri dengan air. Soo Ho terkejut melihatnya. Bo Nui menggunakan kesempatan ini untuk pergi ke kamar mandi.

"Bagaimana itu bisa terjadi?" Soo Ho bertanya-tanya.

Bo Nui mempersiapkan mentalnya untuk malam ini. Dengan berkata pada dirinya sendiri di cermin.

"Kau seorang pria, dan aku seorang wanita. Dalam bahasa cerdasmu, kromosom XX... Kromosom XY bertemu kromosom XX, dan energi maskulin menggabungkan diri dengan energi feminin. Saat itulah tindakan suci, reproduksi, terjadi..."


Kemudian Bo Nui keluar dengan hanya mengenakan pakaian mini. Dia langsung menuju ke Soo Ho yang duduk di sebuah kursi. Bo Nui berbicara di belakang Soo Ho.

"Jangan salah paham dan dengarkan saja. Jadi... Yang ingin aku lakukan adalah..."

Bo Nui terhenti karena tangan Soo Ho terjatuh dari senderan lalu dia menatap Soo Ho yang ternyata sedang tertidur.  Bo Nui tersusuk lemas, dia memperhatikan Soo Ho sekali lagi dan berguman bahwa Soo Ho benar-benar terlihat begitu manis ketika dia tidur.

"Terus? Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Soo Ho yang ternyata tidak tertidur.


Bo Nui terkejut lalu menyilangkan tangannya di dada. Soo Ho memperhatikan Bo Nui dari ujung kepala sampai  kaki lalu menyuruh Bo Nui untuk melanjutkan kalimatnya tadi. Soo Ho mendekatkan wajahnya ke wajah Bo Nui lalu berkata "Waktunya habis. Saatnya untuk pergi."

Bo Nui protes waktunya kan masih tersisa. Soo Ho meminta kalau meteka juga harus menghitung tentang waktu untuk perjalanan. Dan jika mereka pergi sekarang pun sudah molor sampai satu jam. Bo Nui tidak rela ditinggal sendirian di sana. Soo Ho menjawab kalau mereka sudah melihat pemandangan malam dan sudah makan juga dan dia memberi kebebasan Bo Nui untuk tinggal jika memang ingin.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan dia pergi seperti ini." batin Bo Nui.

Bo Nui akan menahan Soo Ho yang mulai berjalan tapi dia malah terjatuh. Soo Ho khawatir, dia bertanya pada Bo Nui dimana daerah yang sakit. Bo Nui geleng-geleng dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja dan menyuruh Soo Ho untuk pergi saja.

"Maaf? Apa katamu?" Soo Ho ingin lebih jelas.

"Pergilah!" perintah Bo Nui.

"Kenapa ..."

"Astaga! Aku sangat malu sekarang. Pergi saja!"


Soo Ho pun keluar dari kamar dan tak lama kemudian Bo Nui menyusul keluar dengan mengenakan mantel dan menenteng gaun dan tasnya. Bo Nui mengeluh kalau sekarang dia terlihat seperti orang cabul berpakaian mantel. Soo Ho tampaknya tidak tahu dengan istilah itu, maka Bo Nui pun menjelaskannya.

"Apa kau tidak tahu? Aku bicara tentang orang-orang aneh yang menunggu gadis berjalan sendirian untuk menyerang mereka. Ada satu di setiap lingkungan. Astaga. Ada satu di daerahku yang aku sudah kenal sejak SMA."

Bo Nui jadi ragu, apa Soo Ho benar-benar jenius. Soo Ho mengiyakan dengan tegas.


Mereka sampai di lobby. di sana ada banyak orang dan mereka mengenali Soo Ho kemudian mengerumuninya dan memotretnya, jadi banyak kilatan lampu kamera. Soo Ho diam saja, traumanya kembali. Bo Nui menyadarai ada yang aneh dengan Soo Ho lalu dia berinisiatif untuk menggandeng Soo Ho dan menjauhkannya dari kerumunan.

Bo Nui mendudukkan Soo Ho. tangan mereka masih saling berpegangan. Soo Ho kemudian melepaskannya dan mencoba menguasai dirinya sendiri. Bo Nui meninggalkannya disana untuk mengambil air.


Saat Bo Nui kembali Soo Ho terus mengucapkan perkalian angka-angka. Bo Nui pun tidak mengajaknya bicara.


Bo Nui sekarang ada di mobil Soo Ho. Bo Nui bersusah payah untuk memulai pembicaraan.

"Yang kau hafal sebelumnya adalah tabel perkalian, kan? Kau juga melakukan itu di taman." tanya Bo Nui.

Soo Ho membenarkan, dan tepatnya itu kelipatan 19. Soo Ho menjelaskan kalau melakukan perhitungan sederhana membantu ketika ingin membersihkan kepalamu. Bo Nui membalas kalau dia bahkan tidak bisa kelipatan sembilan dalam urutan terbalik.

"Kau juga pingsan dalam demonstrasi. Apa kamu..." Bo Nui mencoba menebak.

Soo Ho tidak ingin membicarakan masalah itu. dan mereka sudah sampai lingkungan apartemen Bo Nui, Soo Ho pun meminggirkan mobilnya. Bo Nui menawarinya untuk minum teh

"Tidak, terima kasih. Kita sudah pergi selama 1 jam. Sebenarnya, sudah 2 jam dan 10 menit. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi." Tolak Soo Ho.

"Tapi... Aku pikir kita sudah sedikit dekat."


Soo Ho lalu memanggil Bo Nui dan menghadap Bo Nui. Bo Nui sudah berharap banyak, tapi Soo Ho tenrnyata hanya menyuruh Bo Nui untuk turun. Bo Nui pun turun. Dia akan memberikan salam namun Soo Ho buru-buru menjalankan mobilnya kembali.

"Ya ampun. Dia kembali menjadi Je Soo Ho yang semua orang tahu. Aku hanya membuang-buang waktu dan uangku. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa." sesal Bo Nui.


Soo Ho mengelus tangannya yang digandeng Bo Nui tadi. Soo Ho meyakinkan dirinya sendiri, pasti ia akan tenang jika Bo Nui meninggalkannya sendirian.

"Kenapa dia harus memegang tanganku seperti itu tiba-tiba? Dia bahkan menutup mulutku. Dia sangat liar. Aku harus menambahkan persyaratan kalau dia tidak boleh menyentuhku. Serius. Ya ampun." Gerutu Soo Ho lalu menyalakan musik.


Soo Ho melewati halte dan di sana ada Gary yang sedang menelfonBo Nui. Gary ternyata sedang menunggu kepulangan Bo Nui, dia kira kalau Bo Nui akan pulang naik bis. Dia sudah menunggu dari tadi dengan eskrim dan sekarang semua es krimnya sudah mencair.

Bo Nui menjawab kalau dia sudah di depan gedung sekarang. Gary meminta Bo Nui menunggu di sana, dia akan terbang kemanapun Bo Nui berada.


Gary menyuruh Bo Nui untuk menelfon polisi, namun orang itu memanggil nama Bo Nui, lalu Gary menyibak hodi orang itu, ternyata orang itu adalah Soo Ho.


Akhirnya Bo Nui membawa kedua pria itu ke apartemennya. dan saat ini Bo Nui mengobati luka-luka Gary, sementara Soo Ho hanya menjadi penonton.

Bo Nui mengkhawatirkan Soo Ho, tapi Soo Ho bersikeras kalau dia baik-baik saja. Bo Nui memaksa, setidaknya luka Soo Ho harus dibersihkan.

"Ya ampun. Aku bilang aku baik-baik saja." tolak Soo Ho. lalu dia melanjutkan,,"Sebagai orang yang berintelektual serta warga negara yang demokratis, Aku pikir yang aku lakukan benar. Aku kira aku salah. Itu adalah pengalaman besar untukku."

Lalu Bo Nui memberikan plaster untuk SOo Ho. Soo Ho mengambilnya dengan kasar. Giliran Gary yang menanyai Soo Ho.


"Tuan. Jadi kau presiden perusahaan, kan? Kau seperti bos yang bicara omong kosong. Hanya karena kau presiden, kau pikir kau bisa mengunjungi rumah karyawanmu jam segini?"

Gary sudah pasang badan untuk menantang Soo Ho tapi Bo Nui mengatakan tidak, bukan seperti itu keadaannya. gary bahkan mengatakan mengenai pelecehan seksual segala dan diap untuk memberi Soo Ho pelajaran jika memang benar Soo Ho melakukan itu pada Bo Nui. Bo Nui menahan Gary, dia menjelaskan kalau Gary adalah tetangganya sejak kecil pada Soo Ho. lalu memaksa Gary untuk keluar dari apartemennya.

gary sudah dikeluarkan oleh Bo Nui. Sekarang gary mulai berpikir, apa jangan-jagan Soo Ho itu lahir di tahun macan?


Soo Ho kesulitan untuk memasang plasternya lalu Bo Nui memasangkannya untuk Soo Ho. Kemudian Bo Nui menggabar sesuatu di telapak tangan Soo Ho. Itu adalah karakter Cina yang berarti katak dan ular yang akan membantu menyembuhkan luka dengan cepat.

"Aku tidak percaya takhayul seperti itu." balas Soo Ho.

"Aku percaya. Kumohon tinggalkan ini di sini untuk malam ini saja."

dan Bo Nui selesai menggambarnya. Soo Ho langsung berdiri dan mengatakan kalau ia akan menambahkan sesuatu ke kontrak yaitu Tidak ada sentuhan fisik. Bo Nui tidak mengerti.

"Mulai sekarang, aku akan sangat menghargainya jika kau bisa menahan diri untuk menyentuhku." Jelas Soo Ho.


Bo Nui protes, bukannya benar-benar normal jika bersentuhan fisik sedikit selama kencan. SOo Ho mengingatkan kalau mereka bahkan tidak benar-benar berkencan. Bo Nui akan protes lagi tapi Soo Ho tidak memberinya kesempatan. sebenarnya Soo Ho datang untuk memberitahukan hal itu pada Bo Nui. Lalu Soo Ho mengeluarkan bungkus obat dari kantongnya dan memberikannya untuk Bo Nui.

"Kau tampaknya memiliki gangguan pencernaan. Jika kau mau antibiotik, ambil pil dalam kotak biru. Jika kau mau obat penghilang rasa sakit, ambil yang di kotak kuning. Kau pasti tahu lebih banyak tentang obat-obatan dari diriku.  Aku yakin kau bisa mencari tahu."

Bo Nui tidak mengerti dengan itu semua. Soo Ho memintanya jujur untuk mengatakan apa penyakit yang diderita Bo Nui, Dia sudah melihat kalau Bo Nui minum obat saat dia sampai di hotel, Bo Nui batuk-batuk dan sering cegukan dan juga jatuh begitu mudah dan memiliki masalah pencernaan juga. Bo Nui tambah tidak mengerti.

"Apa yang akan terjadi... tiga minggu kemudian? Apa kau akan dioperasi? Kau akan mati? Apa yang akan terjadi?" tanya Soo Ho.

"Tunggu. Aku tidak benar-benar tidak mengerti. Kenapa aku harus dioperasi? Kenapa kau menanyakan apa aku akan mati?"

"Jangan berusaha keras untuk menyembunyikannya. Aku tahu segalanya. Aku tahu bahwa kau ... memiliki waktu terbatas yang tersisa."

"Tunggu. Jadi... Kau pikir aku sakit parah? Nah, obat yang aku makan di hotel adalah obat anxiolytic herbal. Aku memakannya karena aku sangat gugup."

"Apa itu berarti... kamu membodohiku?"


Bo Nui mengelaknya, Soo Ho sendirilah yang menyimpulkan kalau dirinya sakit setelah mendengar kata-katanya waktu itu kalau kencan mereka akan mempengaruhi hidup mati seseorang.

"Mari kita berhenti berbicara tentang ini. Aku akan mengirim revisi perjanjian dengan bagian tentang tidak ada sentuhan fisik." Kat Soo Ho lalu mengambil kembali obat yang tadi diberikannya untuk Bo Nui.

Bo Nui hanya tersenyum dengan sikap Soo Ho kali ini. Dia bisa melihat kalau Soo Ho ternyata lebih baik daripada yang ia pikir selama ini. Soo Ho tidak mengerti dengan omong kosong Bo Nui itu.

"Maksudku, kau pikir aku sedang sekarat. Kau merasa buruk padaku dan menyepakati perjanjian konyol itu." Jawab Bo Nui.

"Apa kau tahu kalau itu konyol?"

"Kau khawatir dan membawakanku obat. Kau tidak pandai berkelahi, tapi kau melindungiku."

"Baik..."

"Kau benar-benar hebat. Jika bicaramu sedikit lebih bagus. kau akan menjadi orang yang sempurna."


Soo Ho melihat jam tangannya lalu berkata kalau waktunya sudah ewat 1 jam dan 20 menit. Dia memerintah agar Bo Nui memBatalkan kencan besok dan tambahkan 1 jam dan 30 menit.."sampai sabtu depan. Sampai jumpa minggu depan."

"Bisakah kita... menggunakan waktu itu sekarang?"

Soo Ho yang sudah  berjalan sampai di depan pintu berbalik, ia ingin penjelasan lebih dari pertanyaan Bo Nui. Bo Nui menjelaskan, ia ingin 1 jam dan 30 menitnya dihabiskan sekarang saja.

"Tidurlah bersamaku, Tn. Je Soo Ho." Ajak Bo Nui.

*******

Epilogue : Shim Bo Nui sakit parah.


saat Soo Ho keluar setelah menunggu Ryang ha, ternyata ia melihat Bo Nui yang membantu ibu-ibu yang anaknya baru saja masuk rumah sakit, dia melihat kalau Bo Nui terlihat begitu sedih menatap ibu itu dan dia juga mendengar ucapa Bo Nui.

"Dia akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja. Ini akan baik-baik saja."

Nah, saat itulah Soo Ho yakin kalau Bo Nui beneran sakit keras.



 

Click to comment