Type something and hit enter

On
advertise here

Hidangan pembuka datang tapi Tae Suk belum juga datang. Young Joo mengatakan pada anak-anak kalu Tae Suk pasti sibuk.

"Sudah kutebak akan begini. Ayah selalu tidak menepati janji.  Semakin lama semakin buruk. Setidaknya menelpon." Ujar Jeong Woo.

Young Joo membenarkan.
 


Kemudian Yeon Woo melihat Tae Suk di depan pintu masuk. Ia langsung memanggil Ayahnya girang. Tae Suk tersenyum menuju ke meja keluarganya.

"Maret 26, 2016. Bagaimana kepalaku yang rusak ... dapat mengingat hari ini dimasa depan?"

-= Kilas Balik =-


Tae Suk ada di tengah jalan, ia memaksa otaknya untuk mengingat.

"Ingat! Ingat! Ingat!! Ingat! Dasar bodoh!!"

Disaat ia sudah putus asa. Muncul sedikit pencerahan, ia menerogoh sakunya untuk mencari kartu parkir. Tanpa berpikir panjang, ia langsung  menuju ke tempat parkir tersebut.

"Tanpa waktu untuk menyiapkan diri, hidupku mulai retak. Dapatkah aku mengingat ... Lelaki berusia 40 tahun yang ketakutan karena tersesat untuk pertama kalinya."


Tae Suk menemukan mobilnya, juga ponsel yang ada di dalamnya. Ia membuka pesan dari istrinya untuk melihat alamat restauran.

"Seorang bijak pernah berkata ...  'Tersesat dalam kehidupan, merupakan kesempatan menemukan jalan baru'. Tapi, itu hanyalah pepatah.”

Tae Suk berlari kencang menuju restaurant.

"Aku mungkin akan mengingat hari ini ... hari dimana aku menyadari pepatah seperti itu, tidak membuatku merasa lebih baik. Selama ini aku selalu berlari mengejar keluargaku."


Tae Suk berlari menuju pintu masuk, setelah sampai disana ia tak lekas masuk, ia mengatur nafasnya dulu dan merapikan pakaiannya.

"Tapi ... dapatkah aku mengingatnya ... orang tua malang ini ... berlari mengejar keluarganya? Satu hal yang pasti. Suatu hari, aku tidak akan mengingat hari ini. Dan ... satu hal yang pasti ... aku punya keluarga yang harus kulindungi. Apapun yang terjadi, aku ... akan melindungi keluargaku. Aku harap bukan kepalaku melainkan hatiku ... dapat mengingat rasa sakit hilangnya sebuah keluarga. Sampai hatiku berhenti berdetak, maka sakitnya tidak akan berhenti. Aku ... tahu betul itu."

Setelah nafasnya kembali normal dan keringatnya sudah mengering, ia masuk ke dalam restaurant.


Sedangkan Eun Sun menunggu di jalan tempat penabrak anaknya meletakkan bunga.


Tae Suk bergabung dengan keluarganya.

"Demi mengurangi rasa sakit, aku menyembunyikan hatiku, dan mengikuti kepalaku. Tapi kepala yang sangat kupercaya, telah menusukku dari belakang."


Mereka sudah selesai makan, Yeon Woo tertidur di pangkuanibunya di bangku belakang dan Jeong Woo duduk di depan disebelah Tae Suk.

"Pada akhirnya, aku mungkin ... mengkhianati diriku sendiri."


Jeong Woo sedang mendengarkan musik lewat Earphone dan Tae Suk mengambil satu lalu meletakkannya ditelinganya. Ia mencoba menikmati lagu itu. Mungkin ini tindakan kecil tapi mampu membuat Jeong Woo tersenyum juga Young Joo.

"Hati yang sudah kuabaikan setengah mati, memberi perintah kepada kepalaku. 'Tolong ... Bertahanlah selama mungkin.' Selama jantungku masih berdetak ... aku harus bertahan."


Tae Suk menelfon Jae Min mengenai apa yang ia alami tadi, ia jadi ragu, apa benar ia masih dalam tahap awal.

"Itu hanya terjadi sesaat, jangan khawatir." Jawab Jae Min.

"Yaa, bagaimana kalau besok pagi aku mendadak lupa namaku dan jadi orang bodoh? Apa kau masih bisa bicara begitu?"

"Kalau kau lupa aku akan beritahu. Tidur saja dulu. Ini sudah jam 1 dini hari."

Jae Min melarang Tae Suk stress karena bisa bikin botak. Besok saja ketemu untuk membicarakan hasil tes sekalian menentukan obatnya.


Young Joo masuk ke ruang kerja Tae Suk. Tae Suk berbohong kalau ia tadi menelfon Jeong Jin karena besok ada sidang penting.

Tae Suk bertanya, kok Young Joo masih bangun padahal udah minum obat tidur.

"Aku tidak meminumnya. Sedang aku kurangi." Jawab Young Jin.

"Aah, itu bagus sekali. Mau minum, sedikit?"

"Kalau aku mau tidur dengan minuman, aku butuh setidaknya 10 botol soju."

"Kau jadi pandai menggertak karena hidup dengan seorang pengacara. Aku akan segera tidur setelah membereskan ini. Pergilah duluan."


Young Joo mengerti. Sebenarnya tujuannya ke ruang kerja Tae SUk adalah untuk minta maaf karena sudah makan tanpa menunggu Tae Suk.

"Aku yang terlambat, kenapa kau yang minta maaf?"

"Sebenarnya aku ... mengira kau melupakan janji kita untuk makan malam. Makanya aku tidak menunggumu. Seharusnya aku menunggu lebih lama. Maaf."

Tae Suk mengatakan kalau Young Joo tidak perlu minta maaf dan Seandainya, ... kalau ia terlambat lagi, jangan menunggu. Jangan merasa bersalah juga.

Young Joo bertanya, apa Tae Suk mau datang terlambat lagi. Bukan itu maksud Tae Suk.

Young Joo meminta Tae Suk untuk mengangkat telfonnya dan kabari dulu kalau akan terlambat. Tae Suk mengerti.


Eun Sun ketiduran, dan saat ia bangun, sudah ada buket bunga di tempat itu. Eun Sun keluar mobil, ia melihat orang memakai pakaian serba hitam lalu memanggilnya tapi orang itu malah lari.

Eun Sun mengejarnya karena ia yakin orang itulah yang ia nanti-nanti. Orang itu berhasil bersembunyi, dan ia menunjukkan wajahnya, ia adalah Seung Ho.


Eun Sun membawa buket bunga kerumahnya.


Di tempat Tae Suk, Young Joo sedang menyiapkan bajunya. Tae Suk sedang mandi, ponselnya berbunyi. Young Joo melihat di layar kalau yang menelfon adalah Eun Sun tapi ia tidak mengangkatnya.

Setelah Tae Suk selesai, Ypung Joo menyuruhnya bergegas untuk sarapan dan memberitahukalau tadi Ponsel Tae Suk berdering.

Young Joo keluar, Tae Suk melihat siapa yang menelfon. Lalu ia menatap kepergian Young Joo.


Young Joo kepikiran dengan Eun Sun.


Tae Suk sampai di kantor. Sun Hwa menyampaikan jadwal Tae Suk untuk hari ini. Tae Suk minta agar Sun Hwa meng-SMS jadwalnya tiap jam dan kalau ia ada di kantor, tinggal kasih tahu langsung saja. Sun Hwa mengerti.


Tae Suk membuka ponselnya, ia menelfon balik Eun Sun. Eun Sun berkata kalau ia tadi salah pencet dan akan memutus telfon.

"Sebentar. Waktu itu, ditelponmu sebelumnya ... bunga apa yang kau maksud?"

Eun Sun menjawab tak apa-apa tapi Tae Suk tak percaya kalau bukan apa-apa, Eun Sun tak mungkin menelfonnya.

"Aku merasa gusar. Ada yang meninggalkan bunga di tempat kecelakaan Dong Woo. Sudah 10 hari. Pasti pembunuhnya Dong Woo."

Eun Sun sangat yakin orang itu anah penabrak Dong Woo karena orang itu lari saat ia panggil. Kali ini, ia tidak akan kehilangan orang itu. Pati akan ia tangkap.

"Sebentar. Apa kau tidak terlalu terburu-buru? Mungkin saja ada alasan berbeda."

"Alasan berbeda bagaimana?"

"Maksudku ..."

"Kau itu ayahnya Dong Woo, makanya aku ingin kau tahu. Makanya aku menelpon. Lupakan. Ini kesalahanku."

"Kau benar, aku harus tahu. Tapi, kalau dipikirkan secara rasional, ini tidak masuk akal. Buat apa pelakunya melakukan itu?"

Eun Sun langsung menutup telfon. 


Eun Sun memberikan buket bunga yang sudah ia bungkus plastik pada Jaksa Kang. Eun Sun minta agar jaksa Kang melakukan tes sidik jari.

"Mungkin ada sidik jarinya, termasuk aku. Singkirkan sidik jari perempuan, bandingkan dengan kriminal laki-laki, khususnya tersangka tabrak lari." Lanjut Eun Sun.

Jaksa Kang bertanya, untuk apa ini. Eun Sun hanya menjawab ini masalah pribadi, ia minta tolong Jalsa Kang karena lebih mudah buat Jaksa Kang.

"Kau menyalahgunakan wewenang." Jaksa Kang mengingatkan.

"Aku tahu. Tapi, ini bisa saja jadi masalah publik. Ini ada hubungannya dengan pembunuhan."

"Maafkan aku, Hakim. Apakah ini pekerjaan atau masalah pribadi, aku akan putuskan setelah tahu alasannya."


Jaksa Kang membawa buket bunga itu keluar. Ia bertemu dengan Seung Ho yang bertanya apa itu.

"Sudah tahu kenapa tanya? Ini bunga, apa lagi?"

"Ah, iya." Jawab Seung Ho berusaha sebiasa mungkin.


CEO Lee melihat kalau Choi Yeo Kyung beserta pengacaranya kembali datang. Tapi ia ada telfon dan mengangkatnya di ruangannya.

Ia menjawab telfon dari seseorang

"Jaksa pasti sedang kurang kerjaan. Biarkan saja Jaksa Penuntut Kang. Tidak perlu khawatir. Tidak ada yang berubah meskipun dia melihat berkas kasus itu."


Je Hoon memaksa cerita ke Jeong Jin mengenai kencan butanya walaupun Jeong Jin sama sekali gak penasaran. Latar belakang dan pekerjaan wanita itu bagus, hanya satu celanya, wanita itu berbohong kalau dia tidak melakukan operasi plastik.

"Hanya ada satu alasan kenapa perempuan bohong pada laki-laki.  Dia hanya ingin menunjukkan sisi baiknya. Sederhananya, dia ingin memiliki aku." Lanjut Je Hoon.

Kalimat terakhir Je Hoon ini memecahkan teka-teki yang sedari tadi dipikirkan Jeong Jin.


Jeong Jin bersama Tae Suk, ia bertanya kenapa Tae Suk bisa berasumsi kalau orang itu bukan ayah kandung Eun Ah.

"Aku tidak mudah percaya." Jawab Tae Suk.


Tae Suk menyerahkan hasil tes DNA pada pengacara Choi Yeo Kyung. pengacara Choi Yeo Kyung tidak bisa menerima hasil tes tidak resmi itu. Tae Suk menjawab Begitu mereka pergi ke pengadilan, pengadilan akan meminta tes resmi.  Dan tentunya itu juga akan diminta Kang Joo Han.

"Kau memberitahu orang itu?" Tanya Choi Yeo Kyung.

"Masih belum.  Tapi aku yakin, tidak lama lagi dia tahu."

Choi Yeo Kyung mulai gugup. Tangannya bergetar.

"Kalau kau pergi ke pengadilan, hakmu sebagai orang tua akan hilang. Bukannya mendapat uang, kau akan digugat telah melakukan tuduhan palsu." Jelas Tae Suk.

Pengacara Choi Yeo Kyung sudah menyerah dan menyuruh Choi Yeo Kyung untuk menerima uang dari Yoon Seon Hee saja.

Tapi yang diinginkan Yeo Kyung bukan uang. Tae Suk tahu kalau Yeo Kyung mau dua-duanya, ingin balas dendam pada lelaki yang meninggalkannya dan mendapatkan uang dan Ini pasti kesempatan bagus karena Kang Joo Han sebentar lagi menikah.

"Jangan berlagak seolah kau tahu segalanya." Bentak Yeo Kyung yang beranjak pergi.


"Aku tahu kau tidak mengejar uang ... aku percaya." Kata Jeong Jin yang berhasil menghentikan Yeo Kyung.


Tae Suk datang ke ruangan CEO Lee untuk mengabarkan kalau kasusnya sudah selesai.

"Kau sudah bekerja keras." Puji CEO Lee.

"Harusnya kau mengatakan itu pada pengacara Jeong. Dia yang menyelesaikannya. Aku cenderung tidak percaya orang, tapi kawan itu, terbiasa percaya pada orang."

"Apa maksudmu?"

"Ternyata, kita tidak bisa terus percaya pada kepala."

Tae Suk keluar dan meminta CEO Lee saja yang menyampaikan hasil ini pada klien mereka.

Tae Suk melihat Jeong Jin yang sedang menelfon, lalu ia mengingat kejadian tadi.


Jeong Jin tahu kalau Yeo Kyung tidak ingin uang. api, Yeo Kyung tidak bisa menggunakan kebohongan untuk mempertahankan seseorang.

"Meskipun Anda masih punya perasaan pada Kang Joo Han, menggunakan Eun Ah untuk ini ... Ini bahkan terlalu kejam, untuk dirimu sendiri. Masa lalu ada di masa lalu. Anda masih muda, dan masih bisa memulai kembali. Jangan hidup di masa lalu. Saya harap Anda membuat keputusan bijak demi diri Anda dan Eun Ah."

Jeong Jin tahu benar pasti berat, tapi Yeo Kyung pasti bisa mengatasinya. Semangat saja dan ...

Yeo Kyung menangis, semua yang dikatakan Jeong itu benar. 


Setelah selesai menelfon, Jeong Jin melihat Tae Suk yang menatapnya. Tae Suk tersenyum ke Jeong Jin lalu masuk ke ruangannya. Jeong Ji juga tersenyum, akhirnya kinerjanya diakui.


Tae Suk menjalani serangkaian tes lanjutan. Sepertinya ibunya juga punya firasat.


Young Joo bersih-bersih di rumah, ia masih kepikiran mengenai Eun Sun yang menelfon Tae Suk.  Saat ia membersihkan ruang kerja Tae Suk, ia menemukan catatan Tae Suk di kertas kuning dan fokus pada tulisan 'Dong Woo'. Kemudian ia tak sengaja menyentuh laptop yang terbuka menunjukkan  halaman web mengenai alzheimer, tapi ia mengacuhkannya dan menutup laptop.


Jae Min menjelaskan hasil tes Tae Suk. Karena Hasil tes darah butuh waktu lama, nanti ia beritahu hasilnya. Sementara ini, gelombang otak Tae Suk normal.

"Kalau aku normal, kenapa aku tidak tahu dimana mobilku?"

Jae Min menjelaskan kalau semuanya masih normal dan Te Suk masih dalam tahap awal. Kehilangan ingatan akan terlihat, dan Tae Suk akan merasa tidak nyaman. Tapi kemampuan Tae Suk untuk mengingat tidak masalah.

"Lalu apa yang terjadi kemarin?"

"Sudah kubilang. Itu kegagalan ingatan ..."

"Kegagalan ingatan?! Aku sama saja dengan amnesia!"

"Itu ... Aigo. Aku tidak tahu lagi."

Jae Min mencoba menjelaskan kalau Tiap pasien berbeda, penyakitnya juga berkembang secara berbeda di tiap orang. Itu kasus di tahap awal.

"Itu sama dengan kau berkata kau tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." Tae Suk menyimpulkan.

"Iya ... Pada akhirnya ini akan terjadi ... saat kau  mengalami gangguan kognitif, kau akan menampilkan perilaku abnormal."

Jae Min mengingatkan Tae Suk sekali lagi agar tak  lupa menggunakan koyo, jangan minum-minum dan merokok. Banyak olah raga, banyak tertawa dan banyak makan. Itu bisa membantu ingatan Tae Suk. Tae Suk bisa mempertahankan pekerjaan sementara ini, jadi jangan terlalu khawatir.

"’Sementara ini’ itu berapa lama?"

"Dengan kondisimu, mungkin 1000 tahun."

Jae Min akan mengumpulkan info berguna buat Tae Suk dan mengirimi Tae Suk surel. Ia memastikan Tae Suk mengikutinya dan perhatikan level stress.

Tae Suk minta koyo nya lalu pergi.


2 komentar

avatar

Pagi Diana.....makasih update nya.ngeri ya kalo bayangin itu terjadi pada kita.tiba2 g̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ bisa ingat apa2.maklum karna saya dah stw jadi kadang juga dah lupa kalo naruh sesuatu.okey deh makasih sinonya.ditunggu lanjutannya.jaga sehat tetap semangat ya

avatar

Thank you for the recap girl !!

Click to comment