Type something and hit enter

On
advertise here
Mo Yeon mulai menjahit luka Shi Jin. ia bertanya, bagaimana Shi Jin bisa terluka. Shi Jin menjawab ia terluka saat penyelamatan reruntuhan tadi. Mo Yeon tersenyum.

“Aku baik-baik saja.” Ujar Mo Yeon.

“Kau mendengarnya? Aku bertanya sangat pelan tadi.”

“Ya. "Pelan" yang "keras".”

Padahal Shi Jin tadi gak nanya apa-apa.
Shi Jin senang Mo Yeon bisa ada di sana. Ia berterimakasih pada Mo Yeon yang mau berjuang di sana bersamanya.

"Aku juga, terima kasih, Kapten." balas Mo Yeon.

Shi Jin tak berniat jahat pada Mo Yeon tadi. Mo Yeon tahu hal itu. SHi Jin penasaran, kok Mo Yeon tahu

"Menurutmu sudah berapa tahun aku menjadi dokter? Seseorang yang melihat lebih banyak kematian dari seorang tentara adalah seorang dokter yang memegang pisau." jelas Mo Yeon

Jika kata-katanya tadi tidak berguna, Shi Jin menyuruh Mo Yeon untuk melupakannya saja. Tapi... ia sungguh tak ingin Mo Yeon terluka. Itulah yang ia rasakan.

"Kalau begitu, tak perlu menyemangatiku lagi, dan kau bisa melakukan keahlianmu saja, Kapten."

"Keahilianku? Apa maksudmu?"

"Melawak. Karena sepertinya, aku membutuhkan lawakanmu sekarang ini."

Shi Jin berkata kalau Mo Yeon sangat cantik sekarang. Mo Yeon membalas kalau Shi Jin tak sedang melihatnya sekarang. Shi Jin sudah melihat Mo Yeon tadi, Mo Yeon  selalu saja cantik.

"Matamu itu bagus sekali." balas Mo Yeon.

"Aku hanya bercanda."

Mo Yeon tersenyum. ia sudah selesai menjahit luka Shi Jin.

"Aku sangat merindukanmu."

Mo Yeon membeku,

Shi Jin melanjutkan,, "Apapun yang aku lakukan, aku selalu saja memikirkanmu. Aku memaksa diriku, aku berusaha keras. Aku minum dan mencoba semuanyanya. Tapi, percuma karena aku masih merindukanmu. Apa kau tak menyangka aku akan mengatakan ini? Kalau begitu, dengarkan aku. Karena aku sedang tidak bercanda sekarang."

Mo Yeon menyalakan lilin sebagai penghormatan untuk korban yang meninggal.  Total korban yang meninggal adalah 18 orang dan yang terluka 41 orang.

Mo Yeon keluar dari markas sambil menangis. Shi Jin mengikutinya dari belakang. Mo Yeon melarang Shi Jin melihat ke wajahnya. Mo Yeon bertanya, dimana tempat gelap/redup di sekitar sana?

“Mmm… biasanya itu kalimat yang diucapkan pria.” Balas Shi Jin. “Lalu.. haruskah aku mencoba yang terbaik untuk menjadi ‘’tempat redup’’? “

Mo Yeon tersenyum tipis. Shi Jin mengatakan kalau Mo Yeon sudah melakukan hal baik hari ini tapi itu malah membuat air mata Mo Yeon kembali keluar.

“Aku butuh mendengar jawabanmu sehingga aku bisa mengusap airmatamu,”

Mo Yeon masih terisak. Shi Jin menyuruh Mo Yeon untuk melihat ke arahnya, Shi Jin menunjuk ke langit, Mo Yeon mengikuti arah telunjuk Shi Jin dan ia melihat lagit berbintang yang sangat indah.

“Wah.. benar-benar tak punya malu, tanpa tahu apa yang telah terjadi di bumi…” ucap Mo Yeon yang sudah berhenti menangis.

Reaksi Mo Yeon diluar dugaan Shi Jin, ia mengira kalau melihat bintang akan menghibur Mo yeon.

“Aku sudah menerima penghiburan darimu, kapten.”

Lalu mereka saling pandang. Mo Yeon berterimakasih karena Shi Jin sudah kembali, jika Shi Jin tak ada hari ini, mungkin ia sudah melarikan diri.

“jika kau punya rencana kabur, ayo kabur sama-sama. karena akan lebih menyenangkan jika wanita dan pria kabur bersama-sama.”

Dan sekali lagi, candaan Shi Jin ini membuat Mo Yen tersenyum.

Shi Jin mendatangi asal lagu di putar, disana cuma ada Daniel seorang. ia bertanya, Lagu apa berikutnya?

"Entahlah, Dr. Kang yang memilih lagunya."

dan tiba-tiba terputar suara rekaman Mo Yeon saat terjebak di tepi tebing. saat Mo Yeon merekam pesan untuk Shi Jin.
"Aku tahu, keadaan seperti ini pasti akan terjadi di sini, aku harusnya tidak ke sini. Kau akan menyelamatkanku kan, Yoo Si Jin? Kau tak datang, ya? Sepertinya aku akan jatuh sebelum kau sampai di sini. Meskipun begitu, Yoo Si Jin, kau adalah orang yang pertama yang akan menemukan jasadku nanti."

Shi Jin mendengarkan baik-baik rekaman Mo Yeon. Perhalan senyum mengembang di bibir Shi Jin.

"Tapi, jika aku tahu aku akan mati seperti ini, harusnya aku memberitahumu perasaaanku yang sebenarnya. Aku merasa bahagia bisa dicium oleh pria yang sangat tampan. Hatiku merasa sangat bahagia."

Mo Yeon terus berlari sekuat tenaga menuju ke ponselnya. Ia harus menaiki tangga dulu untuk mencapai tempat ponselnya karena ruangan speaker ada di lantai 2.

Mo Yeon keluar dari medicube. Ia kaget saat melihat ada tentara lewat, ia pun ura-pura sedang peregangan. Kemudian ia sembunyi-sembunyi saat mau berjalan, ia berusaha menghindar dari berpapasan dengan orang-orang.

Iapikir sudah tak ada yang lewat, ia pun lega dan berjalan seperti biasa, namun tiba-tiba ada dua orang tentara dari arah yang tadi tak terlihat. Mo Yeon refleks berbalik arah dan sialnya ia malah berpapasan dengan Myeong Ju.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Myeong Ju.

“Aku tak melakukan apapun.”

“Kau sedang melakukan sesuatu.” Bantah Myeong Ju. Lalu ia menambahi kalau Mo Yeon terlihat sedang mencoba bersembunyi dari keadaan memalukan.

Mo Yeon menyuruh Myeong Ju untuk lanjut pergi ke tujuannya saja. Myeong Ju berujar kalau Mo Yeon sangat berani, bagaimana bisa Mo yeon berpikir untuk mengencani Big Boss dari Tim Alpha.

Mo Yeon mulai serius, ia menanyakan apa Myeong Ju tak apa jika memiliki kekasih seorang tentara. Apa tak khawatir kalau kekasih tersebut akan meninggal atau terluka kapanpun. Karena sejauh yang ia tahu, Dae Young juga mempunyai pekerjaan yang sama berbahayanya dengan Shi Jin.

“sejujurnya, dia memasuki daerah musuh … untuk menyelidiki perang, mengumpulkan informasi, membebaskan sandera, dan hal berbahaya lainnya yang mengancam jiwanya… tapi aku tak takut tantang pekerjaanya. Aku hanya takut terpisah darinya. Jadi tak ada yang perlu aku takutkan karena kita bersama sekarang. Simpelnya.. aku tak memiliki ketakutan. Itulah perasaanku.”

Setelah menjelaskan panjang lebar, Myeong Ju pun pergi.

Saat di truck petani, Shi Jin menanyakan jawaban yang diberikan Myeong Ju pada Mo Yeon.

"Letnan Yoon mengatakan berpisah dari pacarnya....membuatnya lebih khawatir." jawab Mo Yeon.

"Bagaimana dengan kita? Akankah kita....berpisah segera? Apa namamu ada pada daftar orang-orang....yang kembali ke Korea?"

Mo Yeon menjawab Tidak, ia akan tinggal. Shi Jin menduga pasti  bukan karenanya.

"Benar. Aku tinggal karena kau. Aku ingin....menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Kupikir aku baru saja menyatakan perasaanku. Haruskah aku meminta maaf?"

"Lalu aku harus bagaimana?"

Dan Shi Jin menarik Mo Yeon lalu menciumnya.

Setelah Shi Jin menyudahi ciumannya giliran Mo Yeon yang menarik Shi Jin.

Mereka sampai di markas, suasana romantic masih menyelimuti, bahkan lampu yang di bluraja bentuknya love. Tapi mereka jadi canggung banget.

"Kau memiliki hari yang panjang. Aku harus pergi ke barak untuk absen malam." Kata Shi Jin.

"Kau melalui banyak hal, juga.  Aku harus memeriksa pasien."

Mereka mengucapkan salam, Shi Jin menghormat dan Mo Yeon menunduk.

lalu mereka berjalan berlawanan arah, rambut Mo Yeon dan SHi Jin sama-sama ada jeraminya.

Dr sang Hyun dan Ja Ae melihat mereka berpisah.

"Mereka akan merasa sangat malu nanti." Ujar Ja Ae.

"Mereka pasti merasa sangat bahagia tadi." Balas Dr Sang Hyun.

Ja Ae ingin memisahkan mereka. Tapi Dr Sang Hyun ingin membandingi mereka.

Ucapan Dr Sang Hyun itu mendapat tatapan tajam dari Ja Ae,

"Apa?" Tanya Dr Sang Hyun.

"Aku ingin menghajarmu."

Mo Yeon memanggil Sersan Mayor Seo yang mendapat kiriman paket dari Shin Ji Young.

"Kau dimana? ofer." Jawab Dae Young Kaget.

Dae Young sedang bersama Shi Jin, mereka memeriksa berkas-berkas. Mo Yeon mengatakan kalau ia ada di Kantin barak. Shi Jin langsung melemparkan berkas-berkas tersebut untuk berlari ke Mo yeon. Dae Young mengikutinya di belakang.

Myeong Ju yang sedang di medicube juga ikutan berlari ke Mo Yeon.

Dae Young dan SHi Jin larinya kenceng buanget, mungkin bisa kali mengalahkan atlit lari.

Mo Yeon mengocok kotak paket Dae Young. Myeong Ju sampai di sana duluan, ia harus memeriksa paket tersebut, Ia membaca pesan di atas kotak paket.

"'Oppa, kau harus kuat' dengan hati merah?'Aku merindukanmu oppa' dengan hati lagi? Dan suara cekikikan?" Myeng Ju tak bisa mempercayai hal ini.

Mo Yeon bertanya, Apa Dae Young punya saudara perempuan?

"Dia anak tunggal!" Bentak Myeong Ju.

"Itu bukan salahku." balas Mo yeon.

lalu Myeong Ju membuka paketnya, dan disana ada surat di dalam surat itu ada foto. Mo Yeoen kaget karena ada foto Si Jin di sana

"Pada hari aku bertemu Si Jin . Aku akan mengirim kenangan kita." isi suratnya.

"Beraninya mereka. Letnan Yoon. Keluarkan pistolmu." perintah Mo yeon.

Shi Jin dan Dae Young sampai. Shi Jin mengatakan kaleu mereka salah paham.

"Salah paham? Aku memiliki foto kalian berempat tampak sangat manis." Jawab Myeong Ju.

"Aku melihat senyum kalian melalui foto ini." Tambah Mo Yeon.

Shi Jin membantah, ia tidak tersenyum. Memang kelihatannya begitu, tapi tidak. "Iya kan?" sambil menyenggol Dae Young

"Dia sepupuku. Kau tahu sepupuku Seorang pramugari." Jawab Shi Jin.

"Jadi sepupumu mengirimkan paket tapi kalian berdua berlari kesini?" tanya Mo Yeon.

"Karena mereka berdua bersenang-senang." Jawab Myeong Ju.

Lalu Myeong Ju bertanya, siapa yang seoupunya Dae Young dan menyuruh mereka menjawab sama-sama. yang kiri atau kanan.

Shi Jin menjawab kiri dan dae Young menjawab kanan. lalu mereka mengulangi jawaban lagi, Shi Jin kanan dan Dae Young kiri.

"Aku mengatur kencan buta untuk Kapten Yoo. Tidak lebih dari itu." Jawab Dae Young jujur.

"Apa kau mengkhianati aku?" bisik Shi Jin.

"Iya." Jawab Dae Young.

"Kau pasti masih berhubungan dengan dia sampai sekarang karena dia bisa mengirim ke alamat ini." Tanya Mo yeon.

Mo Yeon meminta dia (tak tahu siapa) untuk mengikutinya keluar.

Dae Young merasa dirinya yang disuruh, maka ia akan keluar. Myeong Ju menghalanginya. jadilah Dae Young menyuruh untuk Shi Jin pergi.

"Aku ingin tinggal di sini." Ujar Shi Jin, namun ia pergi juga.

"Tolong jangan salah paham. Itu semua hanya masa lalu." Pinta Dae Young

Myeong Ju tak percaya, lalu balik bertanya apa paket itu juga dari masa lalu?

"Itu dari Seoul." Jawab Dae Young.

Ada yang mengintip mereka. Trio sersan. kali ini Sersan Im menang taruhan lagi, ia bertaruh kalau Shi Jin dan Dae Young pergi kencan buta waktu itu, makanya Mereka langsung pergi setelah menyapa.

"Astaga. Katanya ayah teman SMA-nya meninggal." Kata Sersan Choi sambil memberikan uang untuk Sersan Im.

"Mereka berdua bahkan tidak sekolah di SMA yang sama." Jelas Sersan Im.

"Mereka berbohong. Mereka berpakaian rapi hari itu. Kupikir itu pesta ulang tahun mereka sendiri." Tambah Sersan Gong.

Kembali ke Dae Young-Myeong Ju. Myeong Ju sekarang mengerti, jadi inilah alasan kenapa dae Young menghindarinya selama ini. ia pikir ayahnya hambatannya.

"Ayah mertua memang hambatannya." Jawab Dae Young.

"Apa kau bilang?"

"Apa yang barusan kukatakan?"

"Lupakan. Sampai sejauh mana?"

"Kami pergi ke Universitas Konkuk."

"Kau pikir itu yang kumaksudkan? Sejauh mana hubungan kalian? Apa kalian sudah melakukan hubungan fisik atau tidak?"

"Tidak. Itu hanya pertemuan biasa. Kami hanya minum teh" Jawab Shi Jin

"Kau jujur sekali." Puji Mo Yeon.

"Terima kasih."

Mo Yeon tahu sekarang, pasti Shi Jin sering minum teh dengan wanita lain. Dulu, Shi Jin tampak begitu bingung ketika ia pergi, yang ia pikir Shi Jin akan terus melajang selamanya, ia benar-benar merasa kasihan pada Shi Jin, tapi tak disangka ternyata Shi Jin punya kekasih.

"Dia bukan kekasihku. Aku dipaksa kesana.  Aku kesana karena persahabatan. Aku tidak punya pilihan." Alasan Shi Jin.

"Omong kosong. Kau tampak lebih seperti seseorang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kau sangat senang."

Shi Jin membela diri kalau Mo Yeon tidak melihat fotonya dengan teliti. ia punya ekspresi kosong. Ia minum teh dengan ekspresi seperti ini. sambil menunjukkan ekspresi kosongnya.

Myeong Ju tidak percaya. Siapa yang tahu kalau setelah minum teh dae Young mengantar mengantar mereka jalan-jalan?

"Aku tidak melakukannya." Jawab Dae Young.

"Berbohong hanya akan membuat semuanya memburuk."

Dae Young pun mengaku kalau ia melakukannya. tapi bukan dengan mobilnya tapi milik Shi Jin, ia benar-benar tidak bisa mengerti kenapa Shi Jin membawa mobilnya.

"Kau mau aku mempercayainya?" Tanya Mo Yeon.

Tidak, Shi Jin ingin Mo Yeon melupakannya. ia bahkan tidak ingat namanya.

"Oh, kau tidak ingat namanya tetapi tiga suku kata itu (Shin Ji Young) membuatmu berlari?"

"Itu bukan aku."

"Aish..Kau menjengkelkan!"

kemudian seseorang menelfon Mo yeon. Mo Yeon berkata kalau Orang yang menelfon baru saja menyelamatkan hidup SHi Jin. Shi Jin bertanya kesal, siapa dia? apa seorang Pria?

"Kau tidak berhak bertanya begitu. Memangnya kenapa kalau dia pria atu wanita?"

"Jika itu wanita, aku akan membelikan makanan. Jika itu laki-laki, aku akan membelikannya minuman. Aku berutang pada orang ini." Jawab SHi Jin dengan senyum

"Ini direktur Rumah Sakit Haesung!" bentak Mo Yeon. lalu ia menjauh untuk mengangkat telfon.

Shi Jin mengulagi kata-kata Mo Yeon "Ini direktur Rumah Sakit Haesung!" lalu ia tersenyum

Mr Jin sekarang tertangkap oleh Argus CS. anak buah sudah sudah mencarinya di mana-mana, tapi tidak bisa menemukan berliannya.

"Benarkah? Kau belum memeriksa perutnya." Jawab Argus.

lalu mereka menempatkan Mr. Jin diatas meja untuk dibelah perunya. Mr. Jin meronta-ronta.

sekelompok pria bersenjata dan berpakaian serba hitam menembus masuk ke dalam, mereka berhasil membawa ingin menyelamatkan Mr. Jin.

Argus berusaha kabur, tapi ia tertangkap.

"Jangan bergerak. Jika kau bergerak...kau akan mati kali ini."

Lalu Shi Jin membuka maskernya.

Dae Young berkata kalau mereka sudah mendapatkan Mr Jin. Kemudian mereka kembali tanpa menangkap siapapun, hanya membawa Mr Jin.

Mr. Jin sudah terbaring di ranjang Medicube.

Myeong Ju melakukan kesalahan saat mengoperasi Mr Jin, membuat darah muncrat.

"Astaga, aku minta maaf. Kurasa aku menyentuh pembuluh yang salah."

"Akan kuatasi." Jawab Mo Yeon.

Mo Yeon menemukan hal lain, bukan pembuluh, melainkan Tumor di kelenjar getah beningnya pecah.

"Perdarahan internal pasti karena berlian. Tapi bagaimana dengan hipertrofi kelenjar limfatik?" tanya Myeong Ju.

Mo Yeon menyadari sesuatu, ia meminta semuanya untuk mengangkat tangan dan menjauh dari meja operasi.

Myeong Ju harus dimasukkan ke bak penuh es batu karena obatnya yang dibawa Daniel dihadang oleh anak buah Argus.

Tim Alpha akan bertugas. Mo Yeon masuk ke ruangan Shi Jin (ini epilogue di akhir episode 13), lalu Dae Young dan yang lain memberi mereka ruang berdua. Mo Yeon memberi sesuatu pada Shi Jin (semacam obat). Mo Yeon bertanya apa ini misi mengenai Prajurit Ryan lagi. Shi Jin menjawabnya dengan candaan.

Mo Yeon mengaku pada Shi Jin kalau ia masih merasa panik, bahkan dengan lelucon Shi Jin. Ia sangat khawatir.

Shi Jin memeluknya.

Lalu melepasnya, dan menatap tajam matanya,

"Aku tahu kau sangat khawatir, tapi tak perlu khawatirkan aku. Aku percayakan Myeong Ju padamu"

Mo Yeon mengangguk mengerti.

Do'a Mo Yeon : Tolong jagakan aku Kapten Yoo juga. Karena aku sangat menyukainya. Aku ingin mengatakan itu padanya saat dia kembali.

Shi Jin pun pergi...

Jadi ini adalah misi untuk obat Myeong Ju.

Saat penculikan Mo Yeon, Argus kesal lalu memukul Mo Yeon dengan pistolnya. Lalu ia berjalan mengitari Mo Yeon sambil berkata, Big Boss itu cerdas, lucu dan misterius. Tapi... dia memiliki banyak rahasia. Dia akan menghilang dan sulit untuk dihubungi... Dan suatu hari... pushhhhh.... Dia tak akan pernah kembali.

Shi Jin menghubungi pengawal Presiden Arab, ia ingin menggunakan kartu terakhirnya. ia butuh helikopter Dan kencan sekali lagi.

sekarang tinggal Shi Jin sendirian, kemudian Argus muncul.

"Aku menepati janjiku. Jadi kau juga.. Biarkan sandera pergi."

Mo Yeon muncul di belakang argus. SHi Jin memperhatikan keadaan Mo Yeon. setelah melihat bibir Mo Yeon terluka, Shi Jin langsung mengacungkan pistolnya.

"Apa kau memukulnya?"

Shi Jin memerintah Tim nya untuk bersiap. Wolf melapor kalau target sudah dalam posisi.

Argus melangkah ke samping. memperlihatkan kalau Mo yeon dipakaikan baju panuh Bom dan Argus memegang detonatornya.

Shi Jin memerintahkan Tim nya untuk menahan tembakan.

Shi Jin bertanya pada Snoopy untuk menjelaskan tipe Bom di tubuh Mo Yeon.

Sersan Choi menjelaskan kalau itu tipe Bom PVC saku. Yang akan meledak jika tombol detonatornya ditekan. dan Jika tangan pemegang detonator di tembak maka bom sakunya akan meledak.

"Jadi kita tidak punya pilihan?" tanya Shi Jin.

Helicopter sudah semakin mendekat. Argus mnyuruh Shi Jin untuk memerintahkan pendaratan helicopter tersebut.

"Lepaskan dulu dia, atau helicopternya taka akan mendarat."

Argus berkata kalau ia harus ditempat anam terlebih dahulu, atau.... Argus menrangkul Mo Yeon,,"Dia akan mati."

Sersan seo mendekat ke Shi Jin, ia mengatakan pasti ada pemancar Wireless disuatu tempat, Mereka hanya perlu menemukan itu.

Argus bertanya pada Mo Yeon, apa yang mereka bicarakan. Mo Yeon menjawab kalau mereka mengatakan mengenai cuaca yang indah hari ini.

Argus langsung menodongkan pistolnya ke kepala Mo Yen,,"Kau mau mati?"

Shi Jin sigap, ia menembak pistol ARgus hingga jatuh.

"Apa kau GILA?"

"Aku kira, kau bisa menyebut demikian. Jadi, jangan takuti dia, jangan sentuh dia... Jangan mengajaknya bicara. Hanya aku yang perlu kau ajak  bersepakat."

"No. Thank You."

Argus kembali mengambil pistolnya, ia tertawa, sangat menyenangkan, bepergian dengan wanita cantik.

Sersan Choi menemukan wireless nya, ada di bahu kiri Mo Yeon dengan nyala led hijau.

Shi Jin menurunkan pistolnya, ia berbicara pada Mo Yeon.

"Maaf karena terlambat. Jangan bergerak, diam saja. Kau percaya ppadaku, kan? Jangan bergerak."

Lalu Shi Jin mengangkat pistolnya kembali, ia memerintah untuk memulai penembakan, dan ia menembak wireless di pundak Mo Yeon, tepat mengenai led-nya.

Semua berhasil dilumpuhkan. Sekarang saatnya melumpuhkan Bom yang menempel ditubuh Mo Yeon. Sesan Choi yang. Sersan Choi berhasil memutus kebel, tapi ia tidak bisa menghentikan Timer jadi Bom tersebut tetap akan meledak. Sersan Choi melemparkan Bom tersebut ke luar dan Bom nya meledak.

Dae Young masih memantau Argus. Mo Yeon membuka matanya, ia melihat Argus bangkit dengan pistol ditangan, siap untuk menembak.

"Big Boss, arah jam 9."

Shi Jin melindungi Mo yeon dari tembakan Argus, untungnya meleset.

Argus mengambil koper dan melarikan diri. Dae Young menembaknya tapi tak kena karena Argus berhasil bersembunyi dibalik dinding.

Shi Jin menutup mata Mo Yeon dengan tangannya.

"Lupakan bagian ini."

Lalu Shi Jin mulai menembaki Argus sampai meninggal. Airmata Shi Jin mengalir.


Sekarang mereka sudah ada di dalam helikopter. Shi Jin melapor pada komandan kalau misi mereka sukses, target terbunuh dan sandera selamat.


Gambar lengkapnya bis lihat-lihat lagi di sinopsis episode lengkapnya: [1-1]  [1-2] [2-1]  [2-2]  [3-1]  [3-2]  [4-1]  [4-2] [5-1]  [5-2]  [6-1]  [6-2]  [7-1] [7-2]  [8-1]  [8-2]  [9-1]  [9-2]  [10-1]  [10-2]  [11-1]  [11-2]  [12-1]  [12-2]  [13-1]  [13-2] [14-1]  [14-2]  [15-1]  [15-2]  [16-1]  [16-2  Final]

7 komentar

avatar

Chinggu ya,
Tak kirain eps spesial ini bakal muatin NG dan BTS nya, tapi dr rabu maren kayanya cuma ngulangin lovey dovey momen dua couple kita yah...
Rabu maren ratingnya sampe 17% lebih! Daebak! Ini jd bukti orang Korea sono masih blm bisa mup.on kayak kita. Hiks!
Tapi daku tetap aja bersyukur kamu mau ngepost eps spesial ini, pagi2 buta lagi!
Gumapta Ega jagganim.
Hwaiting!!

avatar

thanks recap nya, semangat yha.

avatar

Maaf ka ralat yg dikasih mo yeon bukan obat tpi berlian. Untuk tebusan ke argus

avatar

Chinggu ya,
Dari semalam nunggu part2 nya, tapi bolak balik buka ternyata belum ada,hiks..

avatar

Pas liat BTSnya dimana kru2 filmnya dengan sangat dekat menshoot setiap adegan dan para pemainnya yang pada ketawa2 gitu kalau ada yg salah,rasanya sungguh ajib tercipta suatu film yg begitu mengobok2 emosi hehehe. Dan selalu pengen mengulang2 terus nontonnya

avatar

Semangat recap ya mbak... Ditunggu yg eps special 3 nya lucu N seru bgt sayang gak ada text nya jadi gak tahu apa yg di bicara kan, ditunggu nich... Gumawo... Semoga sehat slalu tuk semua

avatar

Thaanksssss kaaa untuk recapnyaa
Mauuuu sampaii epiloguenyAaa
Makasih makasih makasih

Click to comment