Type something and hit enter

On
advertise here

Park Tae Suk Berlari mengejar Dong Woo di sebuah hutan. di tas Dong Woo terikat balon. Tiba-tiba balon meletus saat berbenturan dengan dahan.



Tae Suk menutup mukanya dengan tangan, lalu ia berbalik dan tiba-tiba ia berada di tengah-tengah di ruang sidang, ia melihat kesekeliling. Disana ada 3 hakim tapi tak ada jaksa maupun pengacara.

Kemudian ia menatap ke arah bangku penonon, di tengah-tengahnya ada Dr Kim.


Kemudian ia menatap ke arah bangku penonon, di tengah-tengahnya ada Dr Kim.

Tae Suk melangkah mundur dan tiba-tiba menginjak kaki seseorang. Ia berbalik ke belakang, orang tersebut memakai naju tahanan serta topeng.

"Siapa kau?" Tanya Tae Suk.

"Aku bilang itu bukan aku. Itu bukan aku. Aku bukan pembunuh." Jawab pria bertopeng sambil terusmelangkah maju membuat Tae Suk melangkah mundur.

"Pembunuh." Kata seseorang.


Tae Suk berbalik, yang mengatakan hal itu adah perawat, lalu perawat melanjutkan kalau Tae Suk lah yang membunuhnya.


"Ayah!" Panggil Dong Woo yang berdiri di dekat pintu masuk.

Tae Suk hendak mendekati Dong Woo, namun Dong Woo berlari keluar, kemudian terdengar decitan rem mobil. Tae Suk menutup matanya rapat-rapat.


Saat ia kembali membuka matanya, hanya tersisa balon merah yang terbang masuk.

Balon membentur langit-langit dua kali setelah itu Duarrrr, balon meletus.


Dan Byar,, Tae Suk membuka matanya di dalam mobil di parkiran. Satpam menyuruhnya untuk pulang.


Jeong Jin berlari ke kantor polisi sebagai pengacara Yoon Joo Hee (kakak perawat).

Ibu kandung anak melaporkan Joo Hee dengan tuduhan penculikan. Pak polisi berkata pada jeong Jin kalau cerita keduanya berbeda.

"Tidak ada alasan mengapa Klien saua menculik anak itu dulu. Dia juga tidak menyakiti anak itu atau meminta imbalan apapun. Dan yang terpenting, Dia merawat anak yang ditelantarkan ibu kandungnya. Ini tidak bisa dikategorikan sebagai penculikan." Bela Jeong Jin.

"Jika tidak penculikan, apa itu?" Tuntut Choi Yeo Kyung (Ibu kandung anak itu)

"Apa Anda dikenakan denda telah menelantarkan anak karena melanggar...Hukum Kesejahteraan Anak?" Tanya Jeong Jin.


Sebelum naik lift, Tae Suk di telfon Jeong Jin mengenai kasus Joo Hee. Tae Suk menjelaskan bahwa tida perlu untuk penyelidikan lain, karena Polisi tidak bodoh. Mereka dapat melihat apa yang terjadi. Pihak Yeo Kyung hanya menggunakan penculikan sebagai ancaman. Dan tuntutan hak asuh direncanakan untuk membuat pihak Joo Hee menyerah duluan.

"Jika mereka menuntut Hak asuh anak, itu akan menyulitkan kita. Apa Anda punya ide?" Tanya Jeong Jin.

Tae Suk menyuruhnya untuk menelfon Yoon Seon Hee (Perawat) bahwa mereka tidak akan menangani kasusunya. Lalu ia menutup telfon.


Tae Suk menatap boneka anjing yang sedari tadi di tentengnya. pintu lift terbuka dan ia masuk ke dalam. saat lift naik, ia kembali melafalkan pasal-pasal. kali ini pasal 2 bab 10 yang berbunyi..

"Semua warga negara berhak mendapatkan martabat dan berharga. Mereka juga memiliki hak untuk bahagia. Bangsa ini harus memahami hak mengganggu gugat Individu dan wajib menjamin hak-hak tersebut."


Young Joo menyambutnya dan bertanya, kenapa membeli boneka anjing. Tae Suk menjawab kalau itu hadiah untuk Yeon Woo yang ingin anak anjing.

Ternyata Yeon Woo sudah memiliki boneka yang sama dan yang memberinya adalah Te Suk.

"Kau membelinya beberapa hari lalu. Apa kau tidak ingat?" Tanya Young Joo.

"Benar ... Aku baru ingat sekarang. Aku... aku harus mengurangi minum." Jawab Tae Suk lalu menggendong Yeon Joo ke kamar.


Di ruang kerjanya, Tae Suk mencari informasi menngenai Alzheimer sampai ke seluk beluknya. mulai dari diagnosis, pengobatan dan efek samping. Karena ia kepikiran dengan mimpinya. dan ia menulis clue dari mimpinya di kertas kuning.


Kemudian Young Joo masuk, Tae Suk langsung menutup laptop. Young Joo ingin membicarakan mengenai Jeong Woo walaupun sebenarnya ia sudah berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada Tae Suk.

Tapi belum sempat bicara, sudah ada yang menelfon Tae Suk. Tae Suk meminta si penelfon untuk mengiriminya detail masalah lewat email.

Setelah menutup telfon, Tae Suk menyuruh Young Joo untuk tidur duluan. Tapi Young Joo diam saja.

"Apa? Apa kau perlu mengatakan sesuatu padaku?" Tanya tae Suk.


Young Ju jelas kesal, karena barusan ia mau membicarakan masalah Jeong Woo tapi Tae Suk mengabaikannya.

"Apa kau peduli tentang kami? Jeong Woo khawatir kalau dia mungkin... Mengecewakan ayahnya. Tapi sekarang aku lebih khawatir kau mungkin mengecewakannya... dan kemungkinan sampai akhir Jeong Woo tak punya tempat bersandar."

Tae Suk bertanya ada apa sebenarnya, ia rasa ada malasah dengan kepalanya, ia minta maaf,bukan karena ia tak peduli tapi karena ada kasus rumit sekarang jadi sulit untuk fokus.

"Dan seperti yang kau tahu, Kau tahu bagaimana aku. Aku bukan tipe penyayang. Apa ada sesuatu serius yang terjadi pada Jeong Woo?" Lanjut Tae Suk.

Tapi Young Joo ingin Tae Suk berjanji dulu tak akan mengatakan semua yang ia katakan nanti pada Jeong Woo dan harus bersikap seperti biasanya.


Lalu paginya, Tae Suk mengantar Jeong Woo ke sekolah. Dan mulai sekarang, ia akan mengantar Jeong Woo ke sekolah setiap hari.

"Tidak usah." jawab Jeong Woo.

"Ayah yang ingin melakukannya." Paksa Tae Suk.

Jeong Woo curiga kalau Ibunya berkata sesuatu. Tae SUk pura-pura tak tahu. Lalu ia menasehati Jeong Woo.

"Jeong Woo. Ketika Ayah seusiamu, Ayah juga Sering buat masalah. Ayah bahkan minum dan merokok. Di saat remaja sepertimu, Kau bisa membuat kesalahan, tapi kau harus belajar dari hal itu. Itu lah cara agar kau dewasa. dan juga, apapun yang terjadi, Ayah percaya pada anak Ayah. Ayah benar-benar percaya padamu. Jadi jangan berkecil hati. Tetap semangat. Mengerti?"

Jeong Woo minta diturunkan dijalan tapi Tae Suk tak mau, lalu ia mengacak-acak rambut Jeong Woo sayang.


Sudah sampai di depan gerbang. Tae Suk memberi Jeong Woo semangat dan dan Jeong Woo membalasnya dengan tersenyum.


Beberapa teman Jeong Woo memanggil. lalu Tae Suk turun dari mobil dan menyapa mereka. Tae Suk juga memberi uang pada Jeong Woo untuk mentraktir teman-temannya.

Tae Suk pun pergi dan Jeong Woo beserta teman-temannya masuk ke dalam lokasi sekolah. Jeong Woo kelihatan takut dengan teman-temannya ini.


CEO Lee dan Jung Won sepertinya punya hubungan khusus. bahkan saat di lift CEO menggenggam tangan Jung Won diam-diam tapi saat keluar, mereka bersikap seperti biasa.


Je Hoon curiga dengan mereka yang datang bersama. Ia bergosip di pantry dengan jeong Jin yang menanggapinya setengah-setengah

Ia menyampaikan kecurigaannya. CEO Lee memakai dasi dari brand favorite-nya dan beberapa hari lalu ia melihat tas belanjaan dengan brand yang sama di ruangan Jung Won ditambah iatri CEO Lee di Amerika sekarang.

"Apa yang sebanarnya ingin kau tanyakan?" tanya Jeong Jin

"Bagaimana pendapatmu tentang penghapusan UU perzinahan? Aku setuju."


Jeong Jin tidak menjawabnya dan memilih pergi, kemudian Sun Hwa masuk, mengatakan kalau Yoon Seon Hee datand dan ingin bertemu dengan CEO Lee, sedangkan Tae Suk belum datang tapi sudah ia hubungi.

lalu Jeong Jin memberikan kopinya untuk Sun Hwa dan bergegas menemui Seon Hee.


"Bagaimana menurutmu jatuh cinta dengan pria yang sudah menikah?" Tanya Je Hoon

"Aku menandatangani petisi menentang penghapusan UU perzinahan." Jawab Sun Hwa lalu pergi.

Je Hoon bergumam kalau Sun Hwa memiliki tubuh yang sangat progresif, Tapi penilaiannya sangat konservatif.


Tae Suk menemui orang yang gambarnya ada di majalah, Presdir Kang Joo Han.


Joo hee dan puterinya menunggu di pantry, sementara Jeong Jin dan Seon Hee bicara berdua di ruangan Tae Suk.


Jeon Jin menjelaskan kalau menemui CEO Lee tidak akan menyelesaikan masalah, tapi Seon Hee tak punya pilihan lain karena Tae Suk tak mau menangani kasusu kakaknya.

Lalu Jeong Jin mengajukan diri untuk menangani kasus kakak Seon Hee. Ini tidak ada hubungannya dengan kasusu Dr Kim, tapi ia tidak bisa berjanji untuk memenangkan kasus ini.

"Aku harus menang apapun yang terjadi." Tegas Seon Hee.

"Tidak seorangpun bisa menjamin itu, dan juga, Itu harus dirahasiakan dari firma." Bujuk Jeong Jin.


kemudian Tae Suk datang dan menyelanya, Tae Suk mengatakan kalau itu tidak baik dan Di dalam ruang tambahan, tidak ada yang namanya rahasia.

"Tapi kalau kau masih tetap ingin mengambil kasus ini, biar kuberi kau sebuah petunjuk.Ibu anak itu menginginkan uang. Dia meminta uang pada ayah anak itu." Lanjut Tae Suk.

Jeong Jin heran, secepat itu tae Suk menemukannya? bagaimana caranya?

Tae Sukmrlsnjutksn kalau pria itu sangat kaya dan bertunangan dengan wanita dari keluarga yang berkuasa.

"Apa Anda akan mengambil kasusku?" Tanya Seon Hee.

"Kalau kau memintaku bukannya mengancamku, Aku akan memikirkannya lagi." Jawab Tae Suk.

Seon Hee pun meminta bantuan Tae Suk. Tae Suk bersedia dengan satu syarat.


Seorang wanita paruh baya datang ke firma, semua orang membungkuk hormat padanya.

Seon Hee dan kakaknya beserta keponakannya meninggalkan firma, Jeong Jin mengantar mereka.

-= Kilas balik =-


Syarat Tae Suk adalah menyuruh Seon Hee untuk minta uang pada rumah sakit Hankuk, ia butuh Sebuah dokumen yang menunjukkan bahwa Seon Hee juga menerima uang.

"Aku tidak percaya pada siapapun. Saat kau memiliki apa yang kau inginkan, Kau mungkin tidak menepati janjimu." Lnjut tae Suk.

Seon Hee berjanji akan menepati janjinya, tapi Tae Suk tetap tidak maun, baginya Sebuah janji tidak berarti apa-apa.

"Aku perlu sesuatu untuk menahanmu."

"Apa kau berusaha menjadikan aku kaki tanganmu?" Tanya Seon Hee.

"Bukankah kau bersiap untuk itu saat kau menyetujui perjanjiannya? Aku lebih memilih mengatakan bahwa kami berada di kapal yang sam."a

"Sekarang aku mengerti kenapa Dokter Kim... Bunuh diri."

Tae Suk menambahi syaratnya lagi,  agar Seon Hee memberinya surat wasiat Dr Kim yang asli dan semua resepnya saat semuanya selesai.

"Baiklah. Tapi pastikan kau melindungi keponakanku."

"Aku bisa berjanji padamu."

-= Kilas balik selesai =-


Jeong Jin tak tahu siapa wanita paruh baya yang lewat di depannya, Jae Hoon memaksanya untuk membungkuk.

"Siapa dia?" Tanya jeong Jin.

"Bagaimana kau bisa menjadi seorang pengacara? Bagaimana kau bisa tidak tahu Ketua Hwang Tae Sun dari Firma Hukum Taesun?"

"Apakah itu dia?"

"Ya, dia adalah simbol dari kerendahan hati dan memberi. Dia adalah panutan dari semua jaksa wanita. Dia adalah reinkarnasi dari karisma lembut...Dan pemilik dari firma hukum kita."


Tae Suk mendiskusikan kasus Joo Hee dengan CEO Lee dan Jung Won.

"Kesempatanmu untuk menang sangat rendah. Dan bahkan jika haknya dicabut, Tidak ada jaminan bahwa klien kita bisa mengadopsi anak itu." Tanggap Jung Won keberatan.


tapi CEO Lee yakin kalau Tae Suk punya rencana lain. Tapi ia juga protes karena Tae Suk menerima kasus tanpa memberitahunya dulu.

"Maafkan aku, itu darurat." Jawab Tae Suk.

"Ada situasi yang lebih darurat daripada ini sebelumnya. Dan juga, itu sesuatu yang harus kau diskusikan dengan rumah sakit Hankuk." Bentak CEO Lee.

"Aku tahu itu, tapi meski kita melakukannya, kita tetap saja tidak punya pilihan." Balas Te SUk.

CEO Lee tahu situasi Tae Suk, tapi seenggaknya Tae SUk juga harus menelfonnya, dan karena Tae Suk sudah berjanji untuk mengambil kasus Joo Hee maka sudah terlambat.

"Kalau yang diinginkan ibu kandungnya adalah uang, bukankah ini akan mudah?" Tanya CEO Lee.

Tae Suk menjelaskan masalahnya adalah ibu anak itu tidak akan menyerahkan hak asuh.

"Tapi janji dibuat untuk anak itu diadopsi secara sah?" Tebak Jung Won.

"Ibu kandungnya tidak pantas jadi walinya. Jelas sekali anak itu akan menderita." jawab Tae Suk.

Tae Suk menjelaskan kalau alasan utamanya untuk mengambil kasus ini adalah untuk firma hukum mereka dan VVIP.


Saat diluar, Jung Won menawari bantuan bahwa ia punya teman hakim yang spesialis di bidang ini dan jika Tae Suk butuh bantuan, tinggal bilang saja.


Tae Suk kembali ke ruangannya. Jeong Jin mengikutinya, bertanya bagaimana cara Tae Suk menemukan ayah anak itu.

"Itulah gunanya mengenal ahli dalam bidang IT." Jawab tae Suk, lalu memberikan gelas kopi kosong agar Jeong Jin memeriksa DNA nya. gelas itu bekas diminum oleh Presdir Kang.


Jeong Jin keluar, ia bertanya-tanya, kenapa mereka perlu hasil tes DNA. Sun Hwa menyahut gelas kopi tersebut lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.

"Kita harus tahu apakah dia benar ayahnya. Kalau dia ibu tunggal tanpa menikah, ayah kandungnya tidak punya hak." Jelas Sun Hwa.

kemudian Sun Hwa memberikan botol bekas anak itu dan gelas kopinya yang sudah ia masukkan ke kantong. Ia akan mengirimkan nomor telpon laboratorium DNA via sms ke Jeong Jin, biasanya ia sendiri yang kesana, tapi Jeong Jin harus mengenal orang-orang itu

"Kau melakukan banyak hal lebih dari yang aku kira." Ujar Jeong Jin.

"Mungkin kau yang menganggap aku enteng." Balas Sun Hwa.


Jung Won juga kembali ke ruangannya dan di dalam sudah ada Ketua Hwang Tae San yang menunggunya.

"Aku selalu berterima kasih padamu, Pengacara Han. Aku tahu kau selalu berada di sampingnya (CEO Lee), memberikan bantuan yang dia perlukan. Meski dia tidak menunjukkannya, pekerjaannya membuat dia harus...Berhati-hati dengan tindakannya, dia pasti stress karena orang-orang mengawasinya. Terkadang dia menuruti kata hatinya. Aku tahu kau tipe yang berhati-hati. Jadi tolong lanjutkan menjaganya dengan baik." Kata Ketua Hwang.

"Jalanku masih panjang, tapi aku akan berusaha yang terbaik." Jawab Jung Won.

Ketua Hwang akan mengundang Jung Won ke tempatnya kapan-kapan dan Kalau Jung Won sedang berkencan dengan seseorang, ia mempersilahkan Jung Won mengajaknya juga.

Huaw,, Ketua Hwang kayaknya tahu hubungan spesial puteranya dengan Jung Won.


Sun Hwa memberitahu Tae Suk kalau ia telah menghubungi pengacaranya Choi Yeo Kyung. Ia akan pergi tapi kemudian menanyakan masalah surat pengunduran diri Jeong Jin yang waktu itu ia lihat di atas meja Tae Su.

tapi anehnya, Tae Suk tak pernah merasa melihat surat itu.

"Mungkin aku salah, maafkan aku." Ujar Sun Hwa senang lalu keluar.

Tae Suk mencari-cari surat tersebut dan ternyata ada di laci. Tae Suk mengingat semuanya sekarang, waktu detektif datang menemuinya, ia memasukkan surat itu ke laci.


lalu Sun Hwa menegur Jeong jin di luar,

"Kau lebih cepat dari yang aku kira." Ujarnya.

jeong Jin tak mengerti dong. Sun Hwa melanjutkan kalau Jeong Jin cepat sekali menyadari kesalahan yang dibuatnya. Jeong Jin nya makin bingung mendengar hal itu.


Eun Sun jalan berdua dengan Hakim Kang Yoo Bin. Hakim Kang membicarakan mengenai temannya yang merupakan pasangan suami istri yang sama-sama bekerja di bidang hukum.

"Dan temanku itu bilang...Bahwa aku harus menikah dengan seseorang yang bekerja di bidang hukum, Mungkin seorang hakim, karena memiliki lebih banyak waktu." Lanjutnya.

"Seorang hakim harus bergulat dengan catatan bahkan harus lembur. Dan kalau kau memiliki skandal, kau akan dihukum seumur hidup atau hukuman mati." Balas Eun Sun.

"Kalau begitu aku tidak akan memiliki skandal. Aku akan menjaganya dan berterima kasih padanya saat pulang dari kerja.."

Ujung-ujungnya Hakim Kang yang ternyata adalah seorang jaksa bukan hakim menanyakan pendapat Eun Sun tentang menikahi seorang jaksa. kode-kode gitu..

Eun Sun menjawab kalau ia tidak pernah memikirkan hal itu.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak mempertimbangkannya mulai sekarang?"


Eun Sun mengalihkan pembicaraan, ia melihat Seung Ho yang sedang membeli sultteok. Lalu Jaksa kang memanggilnya.


Seung Ho mendekat dan memberikan sultteok nya kepada Eun Sun karena ia tidak bisa memakan itu.

"Lalu kenapa kau membelinya?" Tanya Jaksa Kang.

"Tidak ada alasan." Jawab Seong Ho.

Eun Sun memuji Seung Ho anak baik. Lalu ia memberi Seung Ho tugas untuk mencari tahu apa yang terjadi pada nenek tua itu karena  mempelajari kasusnya akan menjadi cara yang baik untuk belajar.

Lalu Eun Sun lanjut jalan ke kantornya diikuti Jaksa Kang. Seung Ho menatap keduanya.


Click to comment