Type something and hit enter

On
advertise here

Seorang pengacara kondang bernama Park Tae Suk (Lee Sung Min) menerima telfon sesaat sebelum rekaman untuk acara televisi. Ia sangat-sangat terkejut bahkan sampai memaksa si penelfon untuk berhenti bercanda, ia sempat teriak sampai mengagetkan seluruh orang di studio.



Saat diluar, ia kembalimenelfon orang itu. ia masih belum mau percaya dengan apa yang dikatakan orang itu, kemudian ia melihat breaking news dan menatapnya lama..

Seperti katanya, kesialan mengetuk pintumu ... tanpa peringatan. Lalu, Ia akan datang diam-diam ... sehingga, kau tidak bisa menyiapkan diri.

-= Dua Hari Sebelumnya =-


Tae Suk mengemudikan mobil mewahnya di jalanan kota Seoul sambilmenelfon. Ia minta orang yang ditelfonnya untuk mencari dompet, sepertinya ia meninggalkan dompetnya di rumah. Tapi ia tak tahu pasti letak dompetnya, ia Cuma mengatakan ‘disana’. lha yang ditelfon gak paham lah disana itu dimana.

Yang ditelfon adalah isterinya, namanya Seo Young Joo (Kim Ji Su). Akhirnya dompetnya ketemu, di atas rak sepatu.

“Malam ini pulang lebih awal. Hari ini ulang tahun Jeong Woo (putra pertama mereka).” Pinta Young Joo.

Tae Suk mengerti lalu memutus telfon karena ada telfon masuk lain. padahal Young Joo masih mau bicara lagi.


Young Joo melihat-lihat isi dompet suaminya dan tak sengaja menemukan foto keluarga disana tapi bukan foto keluarganya melainkan foto keluarga suaminya yang dulu sebelum bercerai dan menikah dengannya.


Yang menelfon adalah CEO firma hukum tempatnya bekerja. Ia akan segera kesana, namun sayang terjadi kecelakaan.


Seseorang datang ke firma, Pengacara muda Jeong Jin (Lee Joon Ho 2PM), ia mengintip ruangan Tae Su tapi kosong. Kemudian seorang sekretaris umum, Bong Sun Hwa (Yoon So Hee) menanyainya, apa ada yang bisa dibantu.

“Aku Jeong Jin, yang barusan ditujuk oleh Dept. Litigasi. Aku ingin tahu apa Pengacara Park Tae Seok sudah datang atau belum.” Jawab Jeong Jin.

Tae Suk datang, seperti biasa, ia menaruh tasnya di meja Sun Hwa. Sun Hwa Khawatir mendengar kabar kecelakaannya Tae Suk, tapi Tae Suk mengatakan kalau ia tak apa-apa.

Tae Suk menanyakan, siapa Jeong Jin. Jeon Jin mengatakan namanya dan tujuannya kesana. Tae Suk menyuruhnya menunggu, kemudian ia ke ruangan CEO.


CEO nya adalah Lee Chan Moo (Jeon No Min), di dalam juga ada pengacara Han Jung Won (Song Seon Mi). Tae Suk masuk dan bertanya ada kasus apa, CEO Lee menjelaskan kalau ini adalah kasus malpraktik medis.

Tae Suk heran, bukannya ini keahliannya Jung Woon kok malah jadi kasusnya. Jung Won mengatakan kalau klien meminta Tae Suk secara pribadi, kemudian ia permisi.

CEO Lee menjelaskan kalau klien mereka adalah Putra bungsu Grup Hankuk Energi yang diperkirakan akan jadi Direktur Rumah Sakit Hankuk.

“Wakil Presdir Shin Young Jin menelpon dan menugaskanmu secara langsung.” Lanjut CEO Lee.

Kasusu ini ada hubungannya dengan Presdir Shin dari dep. Bedah. Tae Suk menangkap maksud si klien yang ingin menutup kasus ini diam-diam, cepat dan tanpa banyak pengacara.


Tae Suk langsung bergerak, ia mengajak Jeong Jin ikut serta dengannya.

Si mata-mata, Kim Jae Hoon bertanya pada Sun Hwa mau kemana mereka,

“Entahlah.” Jawab Sun Hwa.


Dalam perjalanan menuju mobil, Tae Suk menjelaskan kasusnya pada Jeong Jin. Dokter meresepkan obat anti-kanker bukan ... obat pencernaan dua kali untuk pasien yang memiliki bisul lambung. Pasien memiliki aritmia jantung dan kardiomiopati dan pasiennya meninggal setelah mendapat serangan jantung.

Jaeng Jin terkejut mendengarnya,,” Lalu, bagaimana dengan keluarga pasien yang tidak tahu apa-apa soal pengobatan ?”

“Masih belum tahu. Kita mendapat kabar dari whistleblower (Pembawa berita/informasi).”

Lalu mereka masuk ke mobil.


Aura permusuhan terasa sekali di Dep. Bedah rumah sakit Hankuk. Dua dokter yang terlibat dalam kasus ini, pertama Dr. Kim yang mempermasalahkan kasus ini dan satunya adalah Dr. Cha Won Suk yang dianggapnya melakukan malpraktik.


Dr. Cha menjelaskan pada Tae Suk dan Jeong Jin kalau Obat anti-kanker yang diresepkan ... memiliki 2 huruf awal yang sama dengan obat pencernaan dan ia membuat kesalahan dalam proses menulis resep tersebut.

“Kenapa hal itu bisa salah ?” tanya Jeong Jin

“Kapan kau menyadarinya ?” Tanya Tae Suk bersamaan.

Dr. Cha sangat gugup, tangannya terus bergetar. Dr. Cha tidak menyadarinya, tapi dokter Kim yang memeriksa tabelnya. Dr. Kim selalu mengawasi karena sangat kompetitif. Dr. Kim ingin menyingkirkannya karena ia dianggap lawan. Jujur saja, pasien itu tidak bisa dikategorikan sebagai pasien malpraktik.

Jeeng Jin tak sependapat karena kesalahan pemberian obat sudah dua kali. Dr. Cha merasa tak bersalah karena mereka diwajibkan untuk menunggu reaksi pasien pada obat yang diresepkan.

“Ini tidak akan jadi masalah jika kau mengecek resepnya lebih dulu.” Bantah Jeong Jin.


Wakil Presdir Shin Young Jin yang sedari tadi main game gerah mendengarnya, ia mengatakan kalau Orang bisa bikin kesalahan. Kalau tidak membuat kesalahan, maka bukan manusia,, “Dan kita sedang bicara dengan dengan pengacara, bukan Jaksa Penuntut.”

Jeong Jin akan membalas kata-kata Young Jin tapi Tae Suk menghentikannya.

Young Jin melanjutkan kalau ia disana bukan karena kurang kerjaan, lagi pula ia adalah wakil presdir Group hankuk Energi,,”bukan begitu Pengacara park?”


Tae Suk mengiyakan. Lalu ia beralih kembali ke Dr. Cha, ia bertanya apa lagi yang diinginka Dr. Kim selain pemberitahuan pada keluarga pasien, karena jika mereka tidak melakukannya maka Dr. Kim mengancam akan mengungkap ini ke public.

Tidak ada lagi, Dr. Cha juga tidak tahu kenapa Dr. Kim begitu, Julukkan Dr. Kim adalahHyena yang akan menghancurkan karir juniornya jika mereka mengancam posisinya.


Young Jin yang kembalimain gme menyela, ia yakin pasti Dr Kim mau sesuatu karena orang tidak berubah,,"Aku tidak perlu khawatir, bukan? Pengacara Park?

“Ya, pertama ... aku ingin bertemu Dr Kim.” Jawab Tae Suk.


Tae Suk menemui Dr. Kim di ruangannya sementara Jeong Jin menunggu di luar.  Seorang perawat lewat di depannya.


Belum sempet ngomong apa-apa Tae Suk udah di usir oleh Dr. Kim. Tae Suk memperhatikan ada banyak catatan note di ruangan Dr. Kim juga ada setumpuk undangan pernikahan.

Tae Suk mengatakan kalau tidak ada bukti bahwa pasien meninggal karena obat anti kanker.

“Obat anti kanker ... menyerang sel normal dan mematikannya. Kematian pasien hanya tinggal waktu jika obat itu diberikan pada penderita sakit jantung.” Jelas Dr. Kim.

Tae Suk menjelaskan kalau gugatan hukum tidak sesederhana itu. Selain itu, terdakwanya adalah Rumah Sakit Hankuk. Keluarga pasien mungkin akan semakin menderita jika gugatan hukum diperpanjang.

“Mungkin akan ada perubahan jika publik tahu kebenaran.Bukankah itu yang ditakutkan pihak Rumah Sakit?” balas Dr. Kim.

Tae Suk menawarkan posisi Direktur Rumah Sakit jika Dr. Kim mau, kemudian ia membahas mengenai undangan pernikahan, putrinya Dr. Kim akan menikah.

“Pernikahannya besok siang. Jika hingga saat itu kau tidak mengatakan yang sesungguhnya ke keluarga pasien, aku akan bongkar ini ke publik.” Ucap Dr. Kim dingin.

Tae Suk kembali membujuk kalau ini akan menyulitkan Dokter yang bersangkutan. Dr Kim tak peduli. Tae Suk belum menyerah, ia mengatakan kalau Rumah Sakit adalah tempat Dokter berkarier, ia meminta Dr. Kim untuk memikirkannya lagi.

“Karena aku perduli pada rumah sakit, makanya aku sudah diam sampai sekarang.” Jawab Dr. Kim

“Aku menghormati nurani Anda sebagai dokter. Namun, dokter akan lebih banyak kalah daripada menang dalam hal ini.”

Dr. Kim merasa kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tae Suk berkata kalau Dr. Kim pasti akan menyesalinya. Dr Kim memang sudah menyesalinya.


Saat keluar Rumah sakit, Tae Suk memerintahkan Jeong Jin untuk mencari kelemahan Dr. Kim, ia yakin pasti ada karena aneh, tiba-tiba orang materialistic peduli terhadap keadilan,

“Apa dia sudah mau mati? Apa masalah agama?” tanyanya.

Jeong Jin yakin kalau ini adalah malpraktik, Orang tak bersalah mati karena ini.

“Lalu?” tanya Tae Suk.

“Kita harus bicara pada keluarga ...”


Tae Suk memotongnya, Klien ingin menyelesaikan ini diam-diam, mereka harus selesaikan ini dengan Dokter Kim. Jeong Jin menemui kesulitan karena tampaknya Dr. Kim sangat keras kepala.

“Katanya nilaimu paling tinggi di pusat pelatihan? Lalu kenapa datang ke firma hukum? Harusnya jadi Jaksa Penuntut. Kita bekerja untuk klien.” Jelas Tae Suk.

Tapi Jeong Jin tetap merasa bersalah karena mereka harus mencari kelemahan untuk mengancam orang. TaeSum kembali menyelanya, bukan mengancam tapi membuat perjanjian, Dr. Kim tahu kelemahan klien mereka jadi mereka juga harus tahu kelemahan Dr. Kim juga, hanya dengan cara itu…

“Tapi apa salah keluarga itu? Begitu juga dengan pasien yang mati.”

“Kalau kau perduli sekali, keluar saja dan bela keluarga itu!”

Dan Tae Suk meninggalkan Jeong Jin disana, menyuruhnya pulang sendiri. dalam mobil, Tae Suk memerintah seseorang yang ia tekfon untuk mencari tahu kelemahan Dr. Kim.

“Ah! Hari ini hari keberuntunganku.” Ujarnya senang.


Young Joo masih terganggu dengan foto keluarga suaminya yag dulu masih tersimpan di dompet sang suami, namun ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.


Seorang anak kecil berlarian memanggil ibunya. kemudian ada mobil melintas dan menabraknya.

Tepat saat itu seorang terbangun, ternyata itu hanya mimpi orang itu, Hakim Na Eun Sun (Park Jin Hye). Mantan istri Tae Suk yang selalu bermimpi mengenai kematian putra mereka.


Kang Yoo Bin (Hye Jung Do) menelfonnya, menyuruhnya untuk datang ke pertemuan institusi. Tapi Eun Sun tidak bisa karena ada janji penting. Yoo Bin mengerti, ia akan menelfon lagi nanti.


Eun Sun memandangi fotonya bersama Alm. Putranya, seseorang datang memberitahu kalau persidangan sudah siap. Ia pun bersiap.


Young Joo belanja di super market, disana ia bertemu dengan kenalannya yang dulu melarangnya untuk menikah dengan Tae Suk yang merupakan seorang duda karena itu berarti Young Joo akan selamanya hidup dalam bayang-bayang mantan istri Tae Suk, tapi sekarang ia menyesal karena Young Joo bisa hidup enak dengan suami yang terkenal.


Saat di rumah, putrinya (Park Yeon Woo) merengek minta dibelikan anjing bahkan ia berjanji akan membersihkan kotoran anjing nantinya. Young Joo tak bisa apa-apa karena Tae Suk tak menyetujuinya.

Kemudian Jeong Woo datang, Yeon Woo menanyainya apa Oppanya juga suka anak anjing. Jeong Woo menjawab tidak.


Young Joo bertanya mengenai ujian Jeong Woo. Jeong Woo menjawab tidak tahu. Tapi Young Joo terus mendesaknya.

“Sudah ku bilang tidak tahu!” bentak Jeong Woo.

Young Joo tak memasukkan hati bentakan anaknya tersebut, ia dengan lembut menawari Jeong Woo, mau makan japchae tidak sebelum makan malam. Jeong Woo menjawab kalau ia ngantuk. Young Joo mengerti, ia menyuruh Jeong Woo tidur aja kalu begitu nanti akan ia bangunkan saat makan malam tiba.

Jeong Woo mau masuk ke kamarnya, Young Joo mengucapkan selamat ulangtahun untuknya,,

“Terima kasih sudah jadi anaknya ibu.”

“Ya.” jawab Jeong Woo singkat, lalu masuk ke kamarnya.

Young Joo menghela nafas berat.


Tae Suk menemui teman doktenya, ia memeriksakan diri karena kecelakaan tadi pagi. Tae Suk mengeluh pusing saja. Dokter menyarankannya untuk melakukan MRI.

Tae Suk tak mau. Dokter memaksa karena Gegar otak sederhana dapat menyebabkan pendarahan otak atau bahkan perdarahan subarachnoid..

“Aku bisa menggugatmu atas pengobatan berlebihan.” Canda Tae Suk.

“Lagian kau ada disini, anggap saja pemeriksaan rutin.”balas dokter.

Lalu Tae Suk melihat ada undangan pernikahan anak Dr. Kim di meja dokter dan mengambilnya. Dokter bertanya, apa Tae Sukmengenalnya.


“tidak. Apa dia terkenal?”

“Dia terkenal di bidang kami, meskipun aku tidak suka orangnya. Pengacara Park, kau harus menjaga temanmu. Baik-baik pada istrimu. Jangan menyesal belakangan. Tidak ada yang tahu soal masa depan.”

“Kenapa? Orang ini (Dr. Kim) punya penyakit mematikan?”


Lalu Tae Suk tiba-tiba sudah berada di Firma hukum, ia bertemu dengan Lee Seung Ho (Putra CEO Lee?) yang sedang bersama CEO Lee. Mereka bertukar sapa sebentar lalu melanjutkan pergi ke tujuan masing-masing.

Seung Ho tengah kuliah jurusan hukum.


Di dalam lift, CEO Lee manatap Seung Ho tanpa berkata apapun, lalu kembalimenatap ke depan dengan menghembuskan nafas berat.


TaeSuk menuju meja Jeong Jin tapi tak ada siapa-siapa lalu ia menuju meja Sun Hwa maminta berkas yang ia minta tadi.


Tae Suk masuk ke ruangannya, ia menemukan amplop coklat di atas mejanya. 


Jeong Jin masih di luar, ia menatap ke gedung Firma hukumnya, lalu mengeluarkan surat pengunduran diri. 


Tae Suk mendatangi ruangan Jung Won, ia bertanya darimana Jung Won mendapatkan berkas-berkas itu (yang tadi di mejanya Tae Suk). Jung Won menjawab kalau ia punya teman di Firma Hukum JRC di Amerika, ia kira itu bisa membantu.

“Kalau kau punya ini dari awal kasusnya bisa kau tangani.” Balas tae Suk.

Jung Won kembali mengutarakan alasannya karena Klien meminta Tae Suk secara khusus.

“Tentu saja ini perbuatanmu. Kau hanya tidak mau membersihkan kotoran seperti ini. Tapi ini terakhir kalinya. Kau harus tangani urusanmu sendiri.”

“Aku sudah melakukan tugasku.” Bantah Jung Woo.

Tapi walaupun begitu TaeSuk tetap berterimakasih dan berjanji akan mentraktir Jung Woo minum kapan-kapan.


 Jeong Jin datang ke Firma, ia bertanya pada Sun Hwa dimana Tae Suk.

“belum datang.” Jawab Sun Hwa.

Jeong Jin ingin meletakkan sesuatu di meja Tae Suk, ia minta ijin Sun Hwa untuk masuk ke dalam ruangan Tae Suk. Tapi seseorang menelfonnya, ia pun menuju ke toilet untuk mengangkatnya.


Itu telfon dari ibunya yang mangabari kalau Hyung-nya meminjam uang lagi. Jeong Jin kesal, namun ia berkata pada ibunya kalau ia akan bicara dengan Hyung.

Setelah menutup telfon, ia melampiaskan kekesalannya dengan menendang pintu salah satu bilik toilet. Yang ternyata di dalamnya ada Tae Suk.

“Aaah, bocah itu ... Aku tidak dibiarkan tenang dalam toilet.” Kesalnya.


Jeong Jin mengambil minum di pantry. Jae Hoon mendekatinya, bertanya bagaimana rasanya bekerja dengan Tae Suk?

“Apanya?” balas Jeong Jin.

“Dia itu AS dalam Firma Hukum Taesun. Dia adalah 3 Besar. “

“"3 Besar" ?”

“Pertama, Dia punya wawasan mengenai apa yang diinginkan orang berkuasa. Kedua, dia tahu kapan dan dimana menggunakan kekuasaannya untuk kepentingannya. Ketiga, dia tahu cara membaur dalam organisasi apapun. Karena 3 kualitas ini, julukannya adalah 3 besar. Dia mungkin spesial karena bisa menjadi rekan di firma ini, meskipun tidak memiliki kualifikasi hebat.”

Jeong Jin mengakui, Tae Suk memang special, Tae Suk adalah tukang gertak. Jae Hyun mencoba mengorek informasi lebih lanjut tapi Jeong Jin mengatakan kalau itu bukan urusan Jae Hyun.


Saat Jeong Jin akan kembali ke mejanya, tiba-tiba Sun Hwa datang dan mendengar perkataan Jeong Jin yang menyebut Tae Suk sebagai tukang gertak.

Jeong Jin tak peduli, ia tetap jalan saja.

“Kalau ada yang ingin katakan, bilang padanya secara langsung pengacara Jeong. Kaulah yang tukang gertak karena membicarakan dia dibelakang.” Ujar Sun Hwa yang membuat Jeong Jin berhenti.


Di rumah, keluarga Tae Suk sudah menunggunya untuk makan malam bersama. Young Joo menelfon bolak balik tapi tak ada jawaban karena ponsel Tae Suk ketinggalan di kantor yang sudah gelap.

Jeong Woo yang sudah tak sabar menunggu, mendahului makan, Yeon Woo menguikuti Oppanya. Young Joo tak bisa menghalangi mereka lagi.


Tae Suk ada di dalam taxi, ketiduran karena mabuk.


Dirumahnya, Eun Sun menyiapkan banyak makanan dan ada kue juga bahkan ia menuangkan minuman untuk kursi kosong di depannya. Lalu menuang wine untuk diminumnya. Belum sampai minum, bel pintu rumahnya berbunyi.


Diluar ada TaeSuk, saat Eun Sun membuka pintunya, Tae Suk mau menyerobot masuk. Eun Sun mendoronganya.

Tae Suk gak sadar kenapa ia bisa sampai ke rumah Eun Sun.

“Ah ... itu ... Ah, aku ... Aku pasti sedang mabuk. Maaf, maaf. Maaf Eun Sun.”

“Hakim Na Eun Sun.” Koreksi Eun Sun.

“Ya. maaf, Hakim Na Eun Sun. Aku melakukan kesalahan ... karena mabuk.”

Lalu TaeSuk mencari-cari kudanya, ia yakin tadi ia naik keda kesana.

Melihat tak ada reaksi dari Eun Sun. tae Suk kembali mengucapkan maaf, sungguh minta maaf, bahkan ia sampai membungkuk.

Tae Suk mau bertanya, kenapa Eun Sun masih tinggal disana sendirian. Eun Sun tak menjawabnya, malah menutup gerbang dengan kasar.

“Dasar gila. Aku sudah gila.” Gumamnya.


Eun Sun keluar kembali, dan memanggil Tae Suk. Ia bertanya, apa Tae Suk tahu hari ini hari apa. Tae Suk mencoba berpikir tapi ia tak ingat apa-apa, Ia balik bertanya,memangnya hari ini hari apa?

Plak,, Eun Sun menampar Tae Suk.

“Sedang apa?”

“Teganya kau minum-minum hari ini? Masih bisa ketawa? Masih bisa makan? Semua orang bisa melupakannya, tapi kau tidak bisa. Kau harus mengingatnya. Kau harus ingat! Kau tidak boleh lupa!”Kata Eun Sun hampir menangis.

Tae Suk balik membentaknya,,” Katakan hari apa ini!”

“Bajingan. Kau bukan manusia.”

Lalu ia kembali ke dalam rumah.


Tae Suk berbalik, ia menuruni tangga tanpa semangat, ingatannya kembali pada waktu itu..

“Dong Woo Yaa…” Panggilnya.

-= kilas balik =-


Tae Suk berlarian ke ruang bedah umum, disana sudah ada Eun Sun yang menangisi Dong jenazah Dong Woo, ia tak bisa menerima kepergian Dong Woo yang sangat mendadak ini.

“Buka matamu! Dong Woo, ayah disini. Dong Woo, ayah disini!”

Tapi Dong Woo tak merespon dan tangis keduanya memenuri ruangan tersebut.

-= Kilas balik selesai =-


Di dalam rumah, Eun Sun mengepalkan kedua tangannya untuk menhan tangisnya. Tae Suk kembali ke depan gerbang rumah, ia akan membunyikan bel lagi tapi tak jadi.


Ternyata kue dan makanan yang disiapkan Eun Sun itu untuk Dong Woo, putranya yang sudah tiada, yang meninggalkan luka teramat dalam hingga sekarang.





2 komentar

avatar

Chinggu ya,
Waaah, ga nyangka kamu ngambil drama ini.
Setengahan bulan yang lalu, sempat liat di koreandrama.org. Suka liat posternya.
Walaupun leadmale nya udah berumur dan tampangnya ga secakep idol idol itu, tapi daku yakin Lee Sung Min ini adalah salah satu aktor yang udah sangat berpengalaman.
Cuma, walau tema nya mirip remember the war of the son, mudah2an jalan ceritanya seru ya.

Ega ya, hwaiting..!!

avatar

aku rasa drama korea ini mirip dengan Remeber war of the son. apa aku yang hanya berfikiran seperti itu?

Click to comment